Repelita Tel Aviv - Yedioth Ahronoth melaporkan dari sumber militer bahwa Kepala Staf IDF Eyal Zamir memerintahkan tentara Zionis untuk mempersiapkan kemungkinan perang baru dengan Iran hanya beberapa jam setelah negosiasi damai tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad dinyatakan gagal total.
Langkah dramatis ini mengirimkan sinyal jelas bahwa gencatan senjata yang baru berlangsung dua pekan itu kini berada di ujung tanduk.
ADVERTISEMENT
Seluruh pasukan Israel dari unit intelijen hingga angkatan udara diperintahkan masuk ke dalam mode persiapan perang terstruktur, sebuah status yang biasanya hanya diaktifkan sebelum operasi militer skala besar.
Keputusan Zamir ini bukan sekadar respons spontan melainkan buah dari kebuntuan diplomatik yang berkepanjangan.
Ketika meja perundingan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan, maka opsi militer kembali menjadi pilihan utama di meja hijau kabinet perang Israel.
Menurut laporan yang dimuat Yedioth Ahronoth dan dikonfirmasi oleh berbagai media Israel lainnya, Kepala Staf Eyal Zamir secara resmi telah mengubah status kesiapan IDF menjadi structured war-preparation atau persiapan perang terstruktur.
Para analis militer menjelaskan bahwa status ini persis sama dengan situasi sebelum diluncurkannya Operasi Roaring Lion pada 28 Februari 2026 yang menjadi awal dari perang terbuka antara Israel dan Iran.
Instruksi Zamir mencakup akselerasi operasional di mana seluruh unit tempur diminta memangkas waktu respons dan menutup semua celah operasional yang ada.
Pasukan darat, udara, dan laut juga diperintahkan untuk mempertahankan status siaga tertinggi tanpa batas waktu.
Komando Pusat AS telah terlibat dalam perencanaan kontinjensi, mengindikasikan adanya potensi operasi gabungan atau dukungan penuh AS terhadap langkah Israel.
Salah satu aspek paling krusial dari persiapan perang ini adalah percepatan kerja intelijen di mana Divisi Intelijen Militer tengah bekerja secepat mungkin untuk memperluas dan memperbarui bank target di dalam wilayah Iran.
Fokus utama dari daftar target ini bukanlah fasilitas pemerintah biasa melainkan infrastruktur militer vital yang menopang kemampuan ofensif Teheran seperti sistem rudal balistik, platform peluncur, serta fasilitas logistik dan pusat pasokan.
Tujuan dari percepatan ini adalah untuk memberikan fleksibilitas operasional yang ekstrem sehingga Israel dapat bertindak segera setelah keputusan politik dibuat tanpa penundaan.
Runtuhnya meja perundingan di Islamabad menjadi pemicu utama perintah perang ini karena selama lebih dari 21 jam delegasi AS dan Iran duduk berdampingan namun akhirnya pulang tanpa kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan kekecewaannya di media sosial bahwa Iran terlibat dalam perundingan dengan niat baik namun menghadapi maksimalisme dan perubahan target dari pihak AS.
Dari pihak AS, seorang pejabat menjelaskan garis merah yang tidak bisa ditawar antara lain Iran harus mengakhiri semua pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir besar, menarik kembali uranium yang telah diperkaya, menghentikan pendanaan untuk proksi, serta membuka penuh Selat Hormuz tanpa pungutan biaya.
Iran menolak mentah-mentah tuntutan ini yang dianggapnya sebagai kapitulasi sehingga kegagalan diplomatik memicu perintah perang dari Zamir.
Perintah kesiapan perang ini juga harus dilihat dalam konteks tekanan ekonomi global di mana Selat Hormuz yang membawa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia praktis diblokade oleh Iran sejak perang dimulai.
Sebagai buntut dari gagalnya negosiasi, militer AS telah mengumumkan akan memulai blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.
Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh mereka dan musuh akan terperangkap dalam pusaran air yang mematikan.
Perang baru dengan Iran berpotensi menjadi konflik multifront yang melibatkan perang laut, serangan siber, dan kemungkinan serangan balasan dari proksi Iran di Yaman, Suriah, dan Irak.
Laporan Yedioth Ahronoth mengenai perintah Kepala Staf Eyal Zamir ini menjadi deklarasi bahwa gencatan senjata telah berakhir secara efektif.
Israel saat ini berada dalam mode siap tembak dengan bank target yang sudah diperbarui, jet tempur yang siap, dan koordinasi yang erat dengan AS.
Dunia kini menunggu apakah ini hanya taktik tekanan atau benar-benar di ambang perang besar berikutnya di Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok