Berita, Timur Tengah

Klaim Kapal Nuklir AS Dilumpuhkan di Hormuz Terbantahkan, Intelijen Tegaskan Hoaks

Repelita.id

10 April 2026 12:12 WIB

Klaim Kapal Nuklir AS Dilumpuhkan di Hormuz Terbantahkan, Intelijen Tegaskan Hoaks
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Tidak ditemukan bukti kredibel yang membenarkan klaim bahwa kapal selam Ghadir Iran telah melumpuhkan kapal nuklir AS di Selat Hormuz.

Namun, berdasarkan laporan intelijen maritim per tanggal 9 April 2026, armada kapal selam mini Ghadir memang tengah melakukan patroli tempur di perairan dangkal Hormuz.

ADVERTISEMENT

Kapal selam seberat 120 ton ini dirancang khusus untuk bersembunyi di dasar laut dengan mematikan seluruh mesinnya, menjadikannya hantu bagi sonar kapal perang musuh.

Dari posisi tersembunyi itu, Ghadir dapat meluncurkan torpedo superkavitasi Hoot yang melaju hingga 360 kilometer per jam atau tiga kali lebih cepat dari torpedo biasa.

Kecepatan ekstrem torpedo Hoot dicapai dengan menciptakan gelembung udara di sekeliling badannya untuk mengurangi hambatan air secara drastis.

Dengan jangkauan efektif sekitar 6 hingga 10 kilometer, torpedo ini dapat menempuh jarak tersebut dalam hitungan detik tanpa memberi waktu reaksi bagi sistem pertahanan kapal lawan.

Kelemahan utama Hoot adalah ia hanya bergerak lurus seperti roket dan tidak dapat membelok tajam untuk memburu target yang bermanuver.

Namun di selat sempit Selat Hormuz yang lebarnya hanya beberapa puluh kilometer, keterbatasan ini menjadi tidak relevan karena kapal besar AS tidak punya ruang untuk menghindar.

Selain torpedo, Ghadir juga dilaporkan membawa ranjau-ranjau pintar yang dapat dipasang secara diam-diam untuk mencekik jalur pelayaran minyak dunia.

Hingga berita ini diturunkan pada tanggal 10 April 2026, belum ada satu pun kapal induk atau kapal nuklir AS yang dilaporkan mengalami kelumpuhan akibat serangan langsung Ghadir.

Yang terjadi adalah perubahan taktik besar-besaran armada AS yang kini memilih menjaga jarak aman dari perairan dangkal Hormuz.

Seorang analis militer dari lembaga kajian strategis di Washington menyebut bahwa kehadiran Ghadir telah berhasil menciptakan zona terlarang de facto bagi kapal-kapal perang besar di selat tersebut.

Dengan kata lain, meskipun tidak ada kapal yang dilumpuhkan, efek pencegahan dari predator laut Iran ini terbukti sangat nyata dan mengubah peta kekuatan di kawasan.

Para komandan IRGC sendiri tidak pernah mengklaim telah melumpuhkan kapal nuklir AS, melainkan hanya menyatakan bahwa Selat Hormuz berada sepenuhnya di bawah kendali operasional mereka.

Kesimpulan dari berbagai sumber intelijen hingga 10 April 2026 menunjukkan bahwa klaim "melumpuhkan kapal nuklir" adalah hoaks atau distorsi informasi dari sumber tidak bertanggung jawab.

Yang benar adalah Ghadir dan torpedo Hoot-nya telah menjadi mimpi buruk strategis bagi angkatan laut AS karena memaksa mereka beroperasi di perairan yang lebih dalam dan kurang strategis.

Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, kapal selam mungil ini layak disebut sebagai predator laut Iran yang sesungguhnya di kawasan Teluk.

Namun tidak ada satu pun laporan kredibel yang menyatakan bahwa predator tersebut pernah berhasil melumpuhkan kapal nuklir AS di Hormuz hingga hari ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung