Repelita [Jakarta] - Tokoh masyarakat terkemuka Rosario de Marshal atau yang akrab disapa Hercules akhirnya angkat suara untuk meluruskan berbagai isu liar yang sempat menyeret namanya dengan penceramah kondang Habib Bahar.
Klarifikasi tersebut disampaikan langsung guna menepis anggapan miring yang menyebut dirinya terlibat secara langsung dalam insiden kerusuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
ADVERTISEMENT
Tokoh publik tersebut menegaskan bahwa seluruh aktivitas pengamanan yang dilakukannya selama ini hanya berpusat di wilayah Jakarta Barat tanpa pernah mengerahkan massa menuju lokasi kejadian perkara di Jakarta Pusat.
Keterangan resmi tersebut diperkuat melalui kutipan kalimat asli yang disampaikan oleh Hercules di hadapan publik tanpa mengalami perubahan redaksional demi menjaga keakuratan informasi.
Hercules memberikan penjelasannya secara tegas melalui kutipan kalimat yang berbunyi, Ini Jakarta Pusat, jauh dari Jakarta Barat, di daerah Pejompongan.
Pernyataan tersebut dilanjutkan dengan penegasan posisi kelompoknya yang tidak ikut campur dalam insiden berdarah yang menelan korban jiwa di wilayah tetangga tersebut.
Kutipan lanjutan dari pernyataan Hercules tersebut berbunyi, Kami itu tidak ke Pejompongan.
Selain memberikan klarifikasi wilayah, ia juga menceritakan momen saat dirinya berinisiatif menghubungi Habib Bahar melalui sambungan telepon seluler setelah memantau percakapan ramai di aplikasi TikTok.
Komunikasi langsung itu dilakukan guna meredam potensi kesalahpahaman agar hubungan persaudaraan yang telah terjalin lama di antara mereka tidak mudah diadu domba oleh pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab.
Upaya persuasi agar penceramah tersebut bersabar dan mendengarkan penjelasan langsung terekam jelas dalam transkrip percakapan yang diungkapkan kepada khalayak ramai.
Permintaan khusus tersebut disampaikan oleh Hercules melalui kutipan kalimat yang berbunyi, Saya bilang, Bib, diam dulu, Bib.
Seruan agar sang penceramah tidak mudah terprovokasi oleh bisikan orang sekitar kembali dipertegas lewat kutipan kalimat berikutnya yang diucapkan secara berulang.
Kutipan kalimat itu berbunyi, Habib, diam dulu.
Peringatan tegas agar keharmonisan hubungan kakak-adik tetap terjaga diutarakan kembali melalui kutipan kalimat yang berbunyi, Habib, dengar saya dulu.
Sebagai wujud iktikad baik untuk menyelesaikan segala perbedaan pandangan, ia secara terbuka mengundang sang penceramah untuk datang bersilaturahmi langsung ke kantornya selepas waktu sholat Magrib.
Undangan penuh kehangatan tersebut disampaikan melalui kutipan kalimat yang berbunyi, Saya bilang, Habib, habis Magrib silaturahmi, kita doang ngopi.
Bahkan, tokoh masyarakat tersebut menyiapkan penyambutan istimewa bagi sang tamu agung sebagai simbol perdamaian dan kerukunan antar tokoh anak bangsa demi menjaga stabilitas keamanan ibu kota.
Penyambutan terhormat itu ditegaskan kembali melalui kutipan kalimat yang berbunyi, Dengan senang hati, aku kasih karpet merah buat Habib.
Rangkaian klarifikasi panjang tersebut ditutup dengan seruan moral agar seluruh elemen masyarakat bersama para tokoh nasional senantiasa bergandengan tangan merawat persatuan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok