Berita, Nasional

Koalisi PKB–PMII Berpotensi Kunci Calon Tunggal Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama

Repelita.id

02 May 2026 23:10 WIB

Koalisi PKB–PMII Berpotensi Kunci Calon Tunggal Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 diprediksi bakal berlangsung panas namun berpotensi mengerucut pada satu pasangan calon tunggal jika koalisi besar antara dua kekuatan dominan benar-benar terwujud.

Tokoh muda NU, Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, mengungkapkan bahwa berdasarkan pencermatan terhadap dinamika lapangan, terdapat sekitar 400 suara yang berpotensi mengerucut ke satu kubu jika terjadi koalisi strategis.

ADVERTISEMENT

"Jika jejaring PKB–IKA PMII yang menguasai sekitar 250 suara mampu berkoalisi dengan kekuatan Kementerian Agama yang memiliki 130 suara, maka potensi suara yang dapat dihimpun bisa mencapai sekitar 400 suara," kata Gus Lilur kepada wartawan pada Jumat (1/5/2026).

Angka 400 suara ini dinilai sangat signifikan karena dapat membuat kontestasi Muktamar NU ke-35 mengerucut hanya pada satu pasangan calon yang dominan tanpa perlawanan berarti dari poros lainnya.

Saat ini, terdapat enam poros utama yang sedang bergerak aktif dalam peta politik jelang muktamar, namun tidak semuanya memiliki kekuatan suara yang sebanding.

Poros pertama adalah calon Ketua Umum petahana Yahya Cholil Staquf yang tengah mencari pasangan Rais Aam untuk memperkuat basis dukungan dan legitimasi kepemimpinannya.

Poros kedua terdiri dari Rais Aam petahana Miftachul Akhyar dalam satu konfigurasi dengan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf yang sedang mencari figur kuat untuk diusung sebagai calon Ketua Umum.

Poros ketiga menghadirkan figur Menteri Agama Nazaruddin Umar yang didukung oleh kekuatan penguasa dan dinilai tengah mencari pasangan untuk posisi Rais Aam.

Poros keempat merupakan kekuatan besar yang disokong jaringan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII dengan perkiraan kekuatan sekitar 250 suara.

Untuk posisi Rais Aam di poros keempat tersebut, nama Said Aqil Siradj disebut sudah mulai mengerucut menjadi calon terkuat yang akan diusung.

Poros kelima berasal dari jejaring PWNU Jawa Timur yang mendorong figur KH Abdul Hakim Mahfuz, yang hingga kini masih mencari pasangan untuk posisi Rais Aam.

Poros keenam menghadirkan KH Marzuki Mustamar yang telah memastikan dukungannya secara terbuka kepada Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.

Jaringan petahana Ketua Umum diperkirakan hanya menguasai sekitar 100 suara atau setara 20 persen, sementara Rais Aam petahana bersama Sekjen juga memiliki basis kekuatan yang kurang lebih sama.

Di luar kekuatan-kekuatan besar tersebut, masih terdapat sekitar 70 hingga 80 suara yang mengambang dan berpotensi menjadi penentu jika koalisi besar tidak terbentuk.

Namun demikian, Gus Lilur menilai bahwa dinamika politik internal NU tidak sesederhana itu karena kepentingan masing-masing pihak sangat kompleks.

Ambisi untuk menduduki posisi Ketua Umum maupun Rais Aam membuat skema koalisi besar belum tentu mudah terwujud di lapangan.

"Muktamar ke-35 tetap menyisakan banyak kemungkinan, termasuk munculnya poros tandingan yang dapat mengubah peta kekuatan secara drastis di saat-saat akhir," pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung