Berita, Timur Tengah

Korban Berjatuhan di Lebanon, Ratusan Ribu Tentara Zionis Israel Kocar Kacir Takut Mati?

Repelita.id

14 April 2026 18:46 WIB

Korban Berjatuhan di Lebanon, Ratusan Ribu Tentara Zionis Israel Kocar Kacir Takut Mati?
Foto: Istimewa

Repelita Beirut - Korban terus berjatuhan di Lebanon selatan sementara ratusan ribu tentara Zionis Israel dilaporkan kocar-kacir meninggalkan medan pertempuran karena dilanda ketakutan akan kematian di tengah eskalasi konflik dengan Hizbullah.

Militer Israel melaporkan bahwa delapan prajuritnya terluka di Lebanon selatan pada Senin, 13 April 2026, dengan sebagian besar mengalami luka sedang hingga berat dalam bentrokan dengan pejuang Hizbullah.

ADVERTISEMENT

Dalam operasi darat yang sedang berlangsung di Gaza Utara, tiga pasukan Israel dilaporkan tewas terlebih dahulu dalam pertempuran yang terus berlangsung melawan kelompok perlawanan Palestina.

Fenomena yang lebih mengkhawatirkan adalah sekitar 150.000 prajurit Israel dilaporkan telah melarikan diri dari medan pertempuran, sebuah angka yang mencerminkan krisis moral terburuk militer Zionis sejak perang Yom Kippur 1973.

Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa militer Israel sedang menghadapi krisis terburuknya, bukan karena kekurangan rudal atau jet tempur, melainkan karena tentara di balik seragam mulai patah secara psikologis dan takut mati.

Kepala Staf Israel Eyal Zamir memperingatkan dalam pertemuan kabinet bahwa tentara mungkin segera kehilangan kemampuan untuk beroperasi di berbagai front secara simultan akibat kelelahan ekstrem dan kekurangan personel.

Dalam 24 jam terakhir saja, serangan Israel di Lebanon selatan telah menewaskan sedikitnya 22 warga sipil, menurut laporan media Lebanon pada Selasa, 14 April 2026.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat bahwa total korban tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret 2026 telah mencapai lebih dari 2.089 orang, termasuk 165 anak-anak dan hampir 250 wanita.

Serangan balasan dari Hizbullah pun tak kalah dahsyat, di mana kelompok pejuang Lebanon itu mengaku telah meluncurkan roket dan drone ke posisi-posisi militer Israel serta menghancurkan setidaknya satu tank Merkava.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyatakan dalam pidato televisi pada Senin malam bahwa pihaknya akan tetap di medan perang hingga napas terakhir dan menolak segala bentuk perundingan dengan Israel.

Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, datang ke perundingan di Washington pada Selasa, 14 April 2026 dengan instruksi tegas untuk tidak menyetujui gencatan senjata, sehingga hampir mustahil menemukan titik temu dengan pihak Lebanon.

Sekitar 80.000 pria Haredi yang memenuhi syarat untuk wajib militer justru dibebaskan, sementara para prajurit garis depan dipanggil lebih dari tujuh kali sejak dimulainya perang, menciptakan ketidakadilan yang merusak kohesi militer.

Di Gaza, serangan Israel terus berlanjut meskipun ada upaya gencatan senjata, dengan sedikitnya empat warga Palestina tewas dalam serangan udara di Deir al-Balah pada Senin.

Sejak gencatan senjata Oktober lalu, lebih dari 750 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel yang terus berlanjut, menurut laporan dari pejabat kesehatan setempat.

Artinya, pertumpahan darah di perbatasan utara dan selatan akan terus berlanjut tanpa tanda-tanda akan segera berakhir di tengah krisis moral yang melanda tentara Zionis Israel.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung