Repelita [Jakarta] - Jumlah korban jiwa dalam insiden ledakan mesin di KMP Aceh Hebat 2 kembali bertambah.
Muhammad Zulfikar, seorang taruna dari Politeknik Pelayaran Malahayati, dinyatakan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh.
ADVERTISEMENT
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan.
Dengan berpulangnya Zulfikar, total korban tewas akibat musibah tersebut kini menjadi tiga orang.
"Iya betul, kami menerima kabar duka atas wafatnya salah satu korban bernama Muhammad Zulfikar," kata Andri Setiawan di Banda Aceh, Rabu.
Zulfikar mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu dini hari, tepatnya pukul 01.00 WIB.
Jenazah almarhum segera dipulangkan menuju rumah duka di daerah Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh.
Ledakan mematikan ini terjadi pada Jumat (12/6) ketika kapal sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, dalam rute penyeberangan Banda Aceh-Sabang.
Kejadian tersebut mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar, yang mayoritas adalah mahasiswa Poltekpel Malahayati serta seorang kru kapal.
Sebelumnya, dua korban lain yang telah meninggal dunia dalam insiden ini adalah Fahri Herdi Eko dan Muhammad Bilal Ramzi.
Andri menegaskan bahwa pihak manajemen telah berupaya memberikan pendampingan penuh bagi para korban sejak peristiwa itu terjadi.
"Atas nama Manajemen PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Kami berdoa semoga almarhum mendapat tempat terbaik, serta keluarga diberikan kekuatan, ketabahan dan keikhlasan menghadapi cobaan ini," ujarnya.
Pihak perusahaan berkomitmen mengawal kebutuhan keluarga korban, baik dalam proses pengobatan maupun hingga tahapan pemakaman.
ASDP juga menyatakan kooperatif terhadap penyelidikan kepolisian serta akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan operasional mereka.
"Setiap pembelajaran dari peristiwa ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus memperkuat budaya keselamatan sebagai fondasi utama dalam penyelenggaraan layanan penyeberangan," demikian Andri Setiawan. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok