Berita, Nasional

M Rizal Fadillah Sebut Putusan MA dan MK Runtuhkan Delegitimasi Moral Jabatan Wapres Gibran

Repelita.id

01 November 2026 01:08 WIB

M Rizal Fadillah Sebut Putusan MA dan MK Runtuhkan Delegitimasi Moral Jabatan Wapres Gibran
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Sebuah sorotan tajam datang dari pengamat politik mengenai kelangsungan posisi kepemimpinan nasional di tengah pusaran kontroversi hukum belakangan ini.

ADVERTISEMENT

Pandangan kritis tersebut secara khusus membedah stabilitas posisi Wakil Presiden Republik Indonesia pasca munculnya sejumlah keputusan lembaga peradilan tertinggi negara.

Pernyataan bernada kritik mendalam ini disampaikan secara tertulis oleh M Rizal Fadillah selaku Pemerhati Politik dan Kebangsaan pada 31 Oktober 2026.

Melalui tulisan opininya, M Rizal Fadillah menyampaikan, "Ada yang menyatakan Gibran akan bertahan sampai 2029 dengan dasar pengaruh Jokowi masih kuat, Prabowo tetap bungkam, serta partai politik baru sedikit yang siap memakzulkan. Mereka mengabaikan Putusan MK maupun MA yang konon tidak serta merta mencopot Gibran dari jabatan Wapres. Tidak ada tanda bahwa Gibran akan mundur, sementara proses pemunduran butuh waktu dan adu kepentingan. Dengan nada optimis mereka menyatakan bahwa Gibran lengser hanyalah halusinasi."

Selain itu, ia juga menekankan adanya dampak lanjutan yang timbul secara moral akibat putusan dari Mahkamah Konstitusi serta Mahkamah Agung.

Menurutnya, keputusan dari kedua institusi penegak hukum tersebut berimplikasi sangat luas terhadap derajat penerimaan figur pemimpin di mata masyarakat luas.

Dalam tulisan yang sama, M Rizal Fadillah menegaskan, "Mereka lupa bahwa Putusan MK dan MA menjadi faktor delegitimasi moral, sosial, dan hukum atas jabatan Wapres Gibran. Delegitimasi moral mengukuhkan kenyataan bahwa Gibran adalah figur moral dekaden. Manipulasi edukasi, merusak marwah, dan menginjak-injak nilai kejujuran. Delegitimasi sosial karena mengkhianati kepercayaan, dikutuk masyarakat, serta berkelas sampah. Orang buangan. Secara hukum Gibran merebut hak, menjadi penipu, dan hukuman yang tinggal menunggu eksekusi."

Situasi konstelasi politik terkini kemudian dianalogikan secara metaforis seperti posisi yang sangat riskan dan rentan terhadap guncangan.

Pergeseran dinamika dukungan politik dinilai dapat seketika mengubah keadaan kenyamanan kekuasaan yang selama ini digambarkan oleh kelompok pendukung.

Lebih lanjut, M Rizal Fadillah mengutarakan, "Gibran oleh ayah dan adiknya didudukkan di atas gajah untuk mengobrak-abrik rimba politik. Dipaksakan menjadi penguasa dunia hewan ke depan. Gajah diharapkan dapat mengantarkan ke singgasana. Akan tetapi situasi politik mengakibatkan duduk Gibran terus bergeser dan sekarang sudah berada di ujung belalai gajah. Sedikit sentuhan atau rangsangan yang membuat gajah bersin, maka terlempar dan jatuhlah Gibran."

Cara pandang dari para simpatisan lingkaran kekuasaan tersebut dinilai keliru dalam mengantisipasi kerawanan posisi politik yang sedang dihadapi.

Diperkirakan bahwa momentum perubahan waktu akan menjadi faktor penentu jatuhnya reputasi kepemimpinan akibat pondasi yang bermasalah sejak awal.

M Rizal Fadillah kembali menjabarkan pendapatnya, "Pendukung Gibran, Jokowi, dan Kaesang adalah sama. Mereka itu orang-orang buta yang keliru dalam menilai gajah. Dikira seperti pohon kelapa yang kokoh, pisau yang tajam, hamparan yang luas, dan ular yang berbisa. Partikularistis, segmenter, parsial, dan picik. Asal raba dan salah sangka. Dikira Gibran duduk di punggung dengan nyaman, padahal ia sedang menggigil ketakutan berada di ujung belalai. Waktu yang akan membuatnya jatuh dan terlempar. Lalu menjerit kesakitan karena terinjak gajah yang selama ini keluarga dewakan."

Kritik tajam tersebut diakhiri dengan sindiran sarkastis mengenai rekam jejak polemik surat penyetaraan pendidikan formal yang sempat memicu perdebatan nasional.

Sebuah istilah satire bahkan dimunculkan untuk menggambarkan fenomena psikologis kepemimpinan prematur yang dinilai kerap berlindung di balik keabsahan administratif.

Sebagai penutup artikel opininya, M Rizal Fadillah menuliskan, "Gibran adalah monumen kebodohan, kemanjaan, kebohongan, kebablasan, dan keterlaluan. Pangeran yang berjalan telanjang tetapi ditipu ayahnya sendiri Sang Penyihir sehingga seolah berbaju dan bermahkota emas. Kelak dalam Ilmu Kedokteran Jiwa akan dikenal penyakit baru made in Indonesia yang bernama GIBRANOID yaitu remaja yang merasa dewasa, berpendidikan SD merasa Sarjana, dan selalu acungkan lembaran kertas sambil teriak-teriak SUKET...SUKET..!"(*)

Editor: 91224 R-ID Elok










TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung