Repelita Jakarta - Sebuah kabar mengejutkan datang dari Republik Islam Iran terkait penegakan hukum terhadap salah satu warga negaranya.
ADVERTISEMENT
Informasi mengenai peristiwa tersebut awalnya disebarkan oleh akun @okd.islami melalui sebuah unggahan di media sosial Threads pada Rabu 14 Oktober 2026.
Dalam unggahan itu disebutkan bahwa seorang mahasiswi akuntansi yang berumur 23 tahun bernama Najmeh Amini terpaksa menghadapi vonis yang sangat berat.
Pihak berwenang menangkap perempuan muda tersebut ketika gelombang aksi demonstrasi sedang berkobar pada bulan Januari lalu.
Penyebab penangkapan dirinya disinyalir hanya karena sebuah tulisan atau konten yang ia bagikan di jejaring sosial.
Pengadilan negeri di negara tersebut akhirnya menetapkan hukuman penalti maksimal berupa eksekusi mati kepada terdakwa.
Hukum pidana tersebut dijatuhkan karena tindakan mahasiswi itu dinilai telah memenuhi unsur menghina Nabi.
Selain hukuman mati, lembaga peradilan setempat juga menambahkan sanksi kurungan badan selama 12 tahun penjara dalam berkas terpisah.
Selama persidangan berjalan, tim penasihat hukum sempat berupaya mengajukan pembelaan demi menyelamatkan nyawa klien mereka.
Para advokat menyatakan bahwa Najmeh Amini mengunggah pernyataan di akunnya dalam kondisi tidak sadar akibat pengaruh zat adiktif.
Mereka mengklaim mahasiswi tersebut mengalami halusinasi tingkat berat setelah mengonsumsi jamur sebelum membuat postingan.
Akan tetapi, argumen yang diajukan oleh kuasa hukum tidak melunakkan keputusan dari sang pengadil.
Hakim yang memimpin jalannya sidang justru memberikan respons menohok atas alasan tidak sadar tersebut.
"Mengapa, dalam keadaan halusinasi yang sama itu, engkau tidak menghina Amerika dan Israel?" tanya hakim saat persidangan berlangsung.
Pertanyaan dari majelis hakim tersebut dilaporkan langsung membuat sang terdakwa kehilangan kata-kata dan terdiam di kursi persidangan.
Akun pengunggah juga memaparkan data bahwa sepanjang tahun lalu otoritas terkait di sana telah mengeksekusi setidaknya 2.000 orang.
Unggahan mengenai keprihatinan kasus hukum ini juga memicu beragam tanggapan dari para pengguna internet di kolom komentar.
"Dulu banyak kasus orang gila yg melukai para ustadz, pertanyaannya kenapa cuma sasarannya cuma ustadz bukan aparat?" tulis akun jokopurnomo78.
"Narasi lu aneh,koq dipertaruhkan?" timpal akun netizen lain bernama izonkmaldini menyikapi cara penyampaian berita tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads