Repelita [Jakarta] - Pakar hukum tata negara Mahfud MD mengupas tuntas akar historis istilah londo ireng yang sempat dilontarkan dalam perdebatan publik nasional.
Penelusuran sejarah tersebut dikaitkan langsung dengan garis keturunan keluarga Presiden Prabowo Subianto pada masa kolonial Belanda.
ADVERTISEMENT
Pernyataan itu disampaikan melalui tayangan video di kanal YouTube Mahfud MD Official pada Rabu (29/7/2026).
Istilah peyoratif tersebut mulanya merujuk pada pihak bumiputra yang membantu pemerintah kolonial dalam meredam perlawanan bersenjata.
“Kalau dilihat dari sejarah yang sangat terkenal, londo ireng itu kan mulai ketika Perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun,” ujarnya.
Pemerintahan kolonial kala itu mendatangkan pasukan bantuan dari wilayah Minahasa, Sulawesi Utara, guna menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro.
Tokoh militer dari daerah tersebut tercatat bernama Benjamin Sigar yang kemudian diidentifikasi sebagai leluhur dari pihak ibu kepala negara.
“Itu yang pertama disebut londo ireng, karena didatangkan dari Sulawesi Utara untuk melumpuhkan Diponegoro yang selama lima tahun sulit dikalahkan Belanda. Kerugian Belanda sangat besar sehingga didatangkan Benjamin Sigar,” tutur Mahfud.
Penyebutan tersebut lantas melekat di kalangan masyarakat lokal untuk melabeli pihak-pihak yang dinilai berpihak kepada kepentingan penjajah asing.
“Nah, di situlah kemudian orang Jawa itu menyebut londo ireng, ini Belanda juga nih,” sambungnya.
Penjelasan historis ini disampaikan untuk menegaskan perbedaan mendasar antara pengkhianat bangsa dengan insan pers yang menjalankan fungsi kontrol sosial.
Peran aktif jurnalis, pengamat, serta lembaga swadaya masyarakat diposisikan sebagai pengkritik konstruktif demi perbaikan arah kebijakan negara.
“Jadi londo ireng itu pengkhianat, sedangkan para jurnalis tadi adalah pengkritik yang sehat,” pungkasnya.(*).
Editor: 91224 R-ID Elok