Repelita Brussel - Mantan Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen menilai sikap Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu-sekutunya sebagai sesuatu yang "menyakitkan" untuk disaksikan sekaligus menjadi sinyal perlunya perubahan arah strategi pertahanan Eropa.
"Saya percaya ini adalah tantangan terbesar bagi NATO dalam sejarah aliansi ini," ujar Rasmussen dalam wawancara dengan Euronews.
ADVERTISEMENT
Ia menegaskan bahwa Eropa harus mulai membangun kemandirian dalam bidang pertahanan, termasuk memprioritaskan penggunaan senjata produksi dalam negeri dibandingkan ketergantungan pada sistem persenjataan Amerika Serikat.
Rasmussen menambahkan bahwa negara-negara Eropa harus mampu "berdiri di atas kaki sendiri" dalam menjaga keamanan kawasan.
Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan global termasuk konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi distribusi persenjataan.
Laporan menunjukkan kapasitas pasokan militer AS yang selama ini menjadi sumber utama bagi Eropa mengalami tekanan akibat kebutuhan operasional di berbagai front konflik.
Kondisi ini berdampak langsung pada kemampuan Eropa dalam mendukung Ukraina, terutama dalam penyediaan sistem pertahanan dan amunisi.
Rasmussen menekankan bahwa dalam jangka panjang Eropa tidak boleh bersikap naif dalam melihat dinamika geopolitik global.
Ia menyarankan agar negara-negara Eropa mulai memprioritaskan pembelian senjata dan amunisi dari produsen dalam negeri sebagai langkah strategis.
Ketegangan ini juga dipicu oleh memburuknya hubungan politik antara Washington dan sekutu-sekutunya, termasuk wacana Trump terkait Greenland.
Rasmussen menilai wacana penguasaan Greenland sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan NATO karena berpotensi merusak prinsip dasar aliansi.
Perbedaan sikap terkait konflik Iran turut memperlebar jarak antara AS dan Eropa di mana sejumlah negara Eropa menolak terlibat dalam operasi militer yang dinilai di luar mandat pertahanan NATO.
Meski demikian, Rasmussen melihat situasi ini sebagai peluang bagi Eropa untuk merumuskan ulang hubungan dengan AS.
Ia menilai Eropa dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk memperkuat posisi tawar baik dalam isu keamanan maupun hubungan perdagangan.
Di tengah meningkatnya intensitas konflik global, kemampuan logistik militer Barat mulai menghadapi tekanan serius.
Persediaan senjata dan amunisi milik AS dilaporkan mengalami penyusutan seiring keterlibatan dalam berbagai front konflik yang berlangsung hampir bersamaan.
Perang di Ukraina yang telah berlangsung lebih dari dua tahun menguras stok persenjataan Barat dalam jumlah besar.
Prioritas ganda antara Eropa dan Timur Tengah menciptakan tekanan pada rantai pasok sekaligus memperlambat distribusi senjata ke sekutu lainnya.
Kapasitas produksi industri pertahanan Barat belum sepenuhnya mampu mengimbangi laju konsumsi di medan perang.
Krisis ini mendorong negara-negara Eropa untuk mempercepat pembangunan industri pertahanan domestik sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap pasokan AS.
Sementara itu, wacana Trump untuk menguasai Greenland memicu ketegangan serius di dalam aliansi NATO.
Pulau Arktik tersebut merupakan wilayah otonom milik Denmark yang juga anggota NATO sehingga setiap upaya tekanan dinilai sebagai preseden berbahaya dalam hubungan antar sekutu.
Denmark bersama sekutu Uni Eropa menegaskan bahwa Greenland berada di bawah kedaulatan mereka dan tidak dapat menjadi objek negosiasi sepihak.
Sejumlah negara NATO mengirim sinyal dukungan militer simbolik ke kawasan tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Denmark.
Ketegangan ini memperlihatkan adanya ancaman dari dalam aliansi itu sendiri yang berpotensi merusak kohesi organisasi.
Isu Greenland menjadi simbol perubahan yang lebih besar bahwa NATO tidak lagi hanya menghadapi ancaman dari luar tetapi juga diuji oleh perbedaan kepentingan internal.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok