Repelita Jakarta - Kelompok peretas yang terkait dengan Iran, Handala Hack, mengklaim telah membocorkan data pribadi 2.379 personel Marinir Amerika Serikat yang bertugas di kawasan Teluk Persia serta mengancam akan menjadikan mereka sasaran rudal Shahed Kheibar .
Ancaman serius ini disampaikan melalui pesan WhatsApp yang diterima langsung oleh personel militer AS yang ditempatkan di Bahrain, termasuk mereka yang bertugas di markas Komando Pusat Angkatan Laut AS .
ADVERTISEMENT
"Identitas kalian sepenuhnya diketahui oleh unit rudal kami, dan setiap gerakan kalian berada di bawah pengawasan kami," demikian bunyi pesan yang dikutip dari laporan Stars and Stripes, Selasa, 28 April 2026 .
"Sebentar lagi, kalian akan menjadi sasaran drone Shahed serta rudal Kheibar dan Ghadeer kami. Kami sarankan kalian menelepon keluarga sekarang dan mengucapkan selamat tinggal terakhir," lanjut pesan bernada ancaman tersebut .
Kelompok Handala yang diduga berafiliasi dengan Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran ini juga mengklaim telah menguasai informasi rinci tentang para personel tersebut, mulai dari alamat rumah, anggota keluarga, hingga kebiasaan sehari-hari di luar jam dinas .
Para peretas menyebut pembocoran data ini sebagai "peringatan kecil" atas kemampuan monitoring mereka, yang menurut mereka hanyalah "ujung gunung es" dari apa yang sebenarnya mereka kuasai .
Kelompok tersebut menyebut aksinya sebagai bentuk pembalasan atas serangan yang mereka klaim menghantam sebuah sekolah anak perempuan di Minab, Iran, selama fase awal konflik antara AS dan Iran .
Langkah eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Hingga berita ini diturunkan, Pentagon belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi kebenaran klaim bocornya data ribuan personel marinir tersebut.
Namun bulan lalu, Angkatan Laut AS telah mengeluarkan peringatan kepada semua personelnya untuk segera mengamankan ponsel dan akun media sosial sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman siber dari Iran .
Handala sendiri sebelumnya telah mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan siber profil tinggi, termasuk peretasan email pribadi Direktur FBI Kash Patel dan serangan terhadap raksasa teknologi medis asal AS, Stryker .
Para analis keamanan menilai bahwa pergeseran target Handala dari infrastruktur perusahaan ke personel militer langsung menunjukkan taktik baru yang bertujuan untuk menciptakan efek psikologis dan intimidasi personal di kalangan tentara lawan .
Kelompok ini juga dilaporkan telah mengirimkan pesan ancaman serupa melalui WhatsApp kepada ribuan warga sipil di Israel sehari sebelumnya, yang semakin memperkuat dugaan bahwa operasi ini merupakan bagian dari kampanye pengaruh dan intelijen yang lebih luas yang dikendalikan oleh Teheran .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok