Repelita Brussels - Spekulasi mengenai kemungkinan Amerika Serikat keluar dari NATO kembali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, namun Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dengan tegas menepis narasi tersebut.
Rutte menyebut anggapan bahwa Washington akan meninggalkan Aliansi Atlantik Utara sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan lebih bersifat politis ketimbang mencerminkan realitas strategis di lapangan.
ADVERTISEMENT
Saya tidak melihat kemungkinan AS meninggalkan NATO, kata Rutte dalam wawancara dengan media Jerman, Welt am Sonntag, sebagaimana dimuat pada Sabtu, 18 April 2026.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya di Eropa yang dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami tekanan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump diketahui kerap melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara anggota NATO, khususnya terkait kontribusi anggaran pertahanan yang dinilai belum memenuhi target.
Trump berulang kali menilai banyak negara Eropa belum memenuhi target pengeluaran pertahanan sebesar dua persen dari produk domestik bruto sebagaimana disepakati dalam NATO.
Kritik tersebut memicu kekhawatiran di kalangan analis bahwa komitmen Amerika terhadap NATO dapat melemah, bahkan sebagian pihak mulai berspekulasi mengenai kemungkinan perubahan arah kebijakan luar negeri AS.
Namun Rutte menegaskan bahwa komitmen strategis Amerika terhadap NATO tetap kuat karena aliansi transatlantik masih menjadi pilar utama stabilitas keamanan global.
Menurutnya, keberadaan NATO tidak hanya penting bagi Eropa tetapi juga bagi kepentingan strategis Amerika Serikat sendiri karena hubungan tersebut bersifat timbal balik dan saling menguntungkan.
Rutte juga menyoroti peran krusial payung nuklir Amerika dalam menjaga keamanan kawasan Eropa sebagai faktor penentu dalam sistem pertahanan kolektif NATO.
Payung nuklir Amerika adalah jaminan keamanan utama di Eropa, ujar Rutte dalam wawancara tersebut.
Ia menambahkan bahwa tidak ada indikasi bahwa Amerika akan menarik perlindungan tersebut dalam waktu dekat karena justru keberlanjutan komitmen ini dinilai sebagai bagian dari strategi global Washington.
Meskipun demikian, Rutte tidak menampik adanya ketegangan internal dalam NATO dan mengakui bahwa perbedaan pandangan antaranggota merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam aliansi besar.
Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah beban pertahanan yang dinilai belum merata, sehingga negara-negara Eropa didorong untuk meningkatkan kontribusi mereka demi memperkuat kolektivitas aliansi.
Dalam pertemuan dengan Trump di Gedung Putih beberapa waktu lalu, Rutte mengaku mendengar langsung kekecewaan presiden AS terhadap beberapa negara anggota NATO terkait efektivitas aliansi.
Rutte menilai bahwa tantangan keamanan ke depan akan semakin multidimensi, sehingga NATO perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menjaga solidaritas di antara negara anggota.
Selama kita tetap bersatu, NATO akan tetap kuat, ujar Rutte optimistis terhadap masa depan aliansi di tengah berbagai tantangan yang ada.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok