Berita, Timur Tengah

Masoud Pezeshkian, Presiden Iran Berlatar Belakang Dokter Bedah Jantung

Repelita.id

28 April 2026 22:17 WIB

Masoud Pezeshkian, Presiden Iran Berlatar Belakang Dokter Bedah Jantung
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Di tengah hiruk-pikuk politik Timur Tengah yang selalu panas, muncullah sosok unik yang memimpin Republik Islam Iran dengan latar belakang sebagai seorang dokter spesialis bedah jantung.

Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian, bukanlah politisi karier biasa melainkan seorang ahli bedah jantung yang tangannya terbiasa memegang pisau bedah sebelum memegang pucuk pemerintahan tertinggi.

ADVERTISEMENT

Pria kelahiran 29 September 1954 di kota Mahabad, Provinsi Azerbaijan Barat ini tumbuh dalam keluarga dengan darah campuran Azerbaijan dan Kurdi sejak kecil.

Subhanallah, latar belakang medisnya begitu kuat dan jarang dimiliki oleh pemimpin negara lain, apalagi di bidang yang se vital bedah jantung.

Pendidikan kedokterannya dimulai di Universitas Kedokteran Tabriz, tempat ia menimba ilmu dasar sebelum mengabdikan diri untuk bangsa.

Ketika perang saudara Iran-Irak meletus pada periode 1980 hingga 1988, Pezeshkian tidak tinggal diam di balik tembok rumah sakit.

Ia turun langsung ke garis depan sebagai dokter sekaligus pejuang, bertanggung jawab mengirim tim medis ke medan perang nan mengerikan.

Banyak sumber menyebutnya bertugas sebagai "fighter and doctor" di bawah naungan pasukan yang terkait dengan Garda Revolusi Islam (IRGC).

Setelah perang usai, Pezeshkian tidak berhenti belajar dan melanjutkan pendidikan spesialisasinya dengan tekad yang luar biasa.

Ia menyelesaikan spesialisasi bedah umum di Tabriz University of Medical Sciences, kemudian meraih subspesialisasi bedah jantung dari Iran University of Medical Sciences pada tahun 1993.

Kemampuannya sebagai ahli bedah jantung pun diakui secara luas, bahkan ia sempat menjabat sebagai kepala Rumah Sakit Shahid Madani di Tabriz.

Dari tahun 1994 hingga 1999, ia dipercaya memegang posisi rektor di Universitas Kedokteran Tabriz, membina generasi baru tenaga medis Iran.

Karir politiknya dimulai ketika ia dipercaya sebagai Menteri Kesehatan pada era Presiden Mohammad Khatami, tepatnya antara tahun 2001 hingga 2005.

Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, berintegritas tinggi, dan sangat vokal mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap melanggar hak asasi manusia.

Tragedi pribadi juga turut membentuk karakter kuatnya saat istri dan salah seorang anaknya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil pada tahun 1994.

Sejak saat itu, ia memilih tidak menikah lagi dan membesarkan sisa anak-anaknya sendirian, sebuah kisah yang sering ia ceritakan dalam kampanye politiknya.

Pengalaman duka itu membuatnya semakin dekat dengan rakyat biasa yang menderita karena kehilangan orang-orang tercinta.

Pada Juli 2024, Pezeshkian terpilih sebagai Presiden Iran ke-9 dalam pemilu darurat yang digelar setelah wafatnya Presiden Ebrahim Raisi.

Ia memenangkan pemilu dengan platform reformasi politik, sosial, dan ekonomi, serta berupaya meredakan ketegangan dengan negara-negara Barat.

Hingga April 2026, ia masih menjabat meskipun situasi geopolitik Iran sedang sangat dinamis pasca peristiwa yang menimpa Pemimpin Tertinggi Iran.

Apa yang membuat latar belakangnya begitu menarik sebagai seorang pemimpin adalah pemahaman mendalam tentang arti kehidupan dan kematian.

Bedah jantung merupakan salah satu bidang kedokteran paling rumit yang menuntut ketelitian super tinggi, kesabaran ekstra, dan keberanian mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Kualitas-kualitas yang ia asah di ruang operasi itu kini ia bawa ke dunia politik, menghasilkan pendekatan kepemimpinan yang lebih pragmatis dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Di tengah sanksi ekonomi berkepanjangan, ketegangan regional yang terus memanas, dan tantangan internal yang kompleks, sosok "Dokter Presiden" ini sering disebut sebagai harapan bagi mereka yang menginginkan Iran lebih terbuka.

Ia dianggap mampu membawa perubahan tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip dasar Revolusi Islam yang menjadi fondasi negara.

Ia tetap loyal pada sistem yang berjalan, tetapi dikenal jauh lebih moderat dibandingkan dengan pendahulunya yang keras kepala.

Masya Allah, Allah SWT memberikan karunia ilmu yang luar biasa luas kepada hamba-Nya yang bernama Masoud Pezeshkian.

Dari meja operasi ruang bedah jantung yang dingin hingga kursi kepresidenan yang panas terik, perjalanan hidupnya mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pengabdian tulus dan pengetahuan yang mendalam.

Semoga kepemimpinannya mampu membawa kebaikan bagi seluruh rakyat Iran dan menciptakan kestabilan yang lebih baik di kawasan Timur Tengah yang selalu bergolak.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung