Berita, Timur Tengah

Media Israel Akui Negaranya Sekarat di Front Lebanon Lawan Hizbullah

Repelita.id

28 April 2026 19:10 WIB

Media Israel Akui Negaranya Sekarat di Front Lebanon Lawan Hizbullah
Foto: Istimewa

Repelita Tel Aviv - Sebuah kenyataan pahit datang dari dalam Israel, bukan dari musuh, melainkan dari surat kabar Maariv yang mengakui bahwa negaranya saat ini sedang sekarat di front utara.

Analis militer terkemuka Israel, Avi Ashkenazi, menulis dengan blak-blakan pada 27 April 2026 bahwa negaranya secara efektif telah kalah dalam putaran konflik saat ini di Lebanon.

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini bukan propaganda melainkan fakta yang diakui di tengah euforia gencatan senjata sementara dengan Iran.

Sejak 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan preemptive besar-besaran ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.

Teheran membalas dengan menutup Selat Hormuz dan meluncurkan rudal ke pangkalan AS serta wilayah Israel.

Namun perang tidak berhenti di udara karena Hizbullah yang didanai penuh oleh IRGC membuka front kedua pada 2 Maret 2026 sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran.

Sejak saat itu, Israel harus berperang di dua front yaitu melawan Iran di timur via serangan udara jarak jauh dan melawan Hizbullah di utara via kontak darat langsung.

Laporan terkini menunjukkan bahwa front utara justru lebih menyedot darah tentara Israel dibandingkan front timur.

Sejak 28 Februari, total korban luka di Israel mencapai 8.497 orang dengan 596 cedera terjadi di front utara setelah gencatan senjata dengan Iran diberlakukan.

Artinya meskipun tembak-menembak rudal dengan Iran sudah dihentikan sementara, pertempuran darat di Lebanon tetap berlangsung dan terus memakan korban.

Avi Ashkenazi dalam tulisannya di Maariv tidak main-main menyalahkan pemerintah Israel atas situasi ini.

"Level politik lumpuh dan tidak mampu mengelola perang di berbagai front Lebanon, Gaza, dan Iran," tulis Ashkenazi seperti dikutip dari Maariv pada Selasa, 28 April 2026.

Ia menyebut bahwa Kepala Staf Eyal Zamir justru diam seribu bahasa sementara para komandan militer di lapangan sudah mencapai tingkat keputusasaan yang sangat tinggi.

"Level politik lumpuh. Yang menentukan gerakan kita saat ini tampaknya di satu sisi adalah Donald Trump, dan di sisi lain, Iran," tegas Ashkenazi.

Ini adalah pengakuan memalukan bahwa Israel yang mengaku sebagai negara adidaya militer kini tidak lagi menjadi penentu nasibnya sendiri.

Jawaban mengapa Lebanon begitu sulit ditaklukkan terletak pada strategi perang asimetris Hizbullah yang diubah total oleh Iran.

Usai perang 2024 yang melumpuhkan banyak komandan Hizbullah, IRGC mengirimkan sekitar seratus perwira ke Lebanon untuk membangun kembali komando militer Hizbullah.

Mereka mengubah struktur komando yang tadinya terpusat menjadi sistem desentralisasi yang terdiri dari sel-sel kecil yang tidak saling tahu.

Hasilnya, sejak 22 April, pejuang perlawanan telah melakukan sekitar 25 insiden dengan meluncurkan puluhan roket dan drone ke arah pemukiman utara Israel.

Salah satu serangan paling mematikan terjadi di desa Taybeh yang menewaskan satu tentara Israel dan melukai lima lainnya akibat drone pengebom.

Sebaliknya, pasukan Israel terbatas pada tindakan terbatas di sepanjang perbatasan tanpa upaya memperluas operasi lebih dalam ke wilayah Lebanon.

Situasi ini diperumit oleh perbedaan interpretasi gencatan senjata yang disepakati AS dan Iran pada 8 April 2026.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa Israel mendukung keputusan Trump tetapi gencatan senjata dua minggu itu tidak termasuk Lebanon.

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi hal ini dengan jawaban singkat "Karena Hizbullah. Itu urusan terpisah."

Bagi Iran, ini adalah pengkhianatan karena Teheran mengartikan gencatan senjata harus bersifat komprehensif.

Iran mengultimatum bahwa jika serangan ke Lebanon tidak dihentikan, mereka akan keluar dari perjanjian gencatan senjata.

Sementara itu, Pemimpin Hizbullah Naim Qassem dengan tegas menolak negosiasi langsung dengan Israel.

"Kami dengan tegas menolak negosiasi langsung dengan Israel, dan mereka yang berkuasa harus tahu bahwa tindakan mereka tidak akan menguntungkan Lebanon atau diri mereka sendiri," kata Qassem.

Di tengah chaos ini, delegasi Iran bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg pada 27 April 2026.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan pesan dari Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Mojtaba Khamenei.

Putin berjanji bahwa Rusia akan melakukan "segala sesuatu" untuk melayani kepentingan Iran, sebuah sinyal kuat bahwa Moskow menempatkan dirinya di belakang Iran dan Hizbullah.

Skenarionya sederhana yaitu di selatan Iran mendapat dukungan penuh Moskow sementara di utara Hizbullah mendapat suntikan kekuatan dari IRGC.

Akibatnya, Israel terjepit di tengah dengan Hizbullah yang terus mengintensifkan operasinya di Lebanon selatan.

Ashkenazi memperingatkan bahwa selama komandan Hizbullah masih bebas berkeliaran di Beirut dan Lembah Bekaa, Israel sedang mencatatkan kekalahan telak.

"Selama fakta ini masih terjadi, Israel sedang menuju kekalahan," tegas analis militer tersebut.

Bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, ini adalah ujian terbesar tanpa kemenangan mudah dan tanpa pintu keluar cepat.

Pertanyaannya sekarang adalah mampukah Israel bertahan di dua front sekaligus, atau akankah Netanyahu terpaksa menerima kekalahan di Lebanon demi menyelamatkan muka di Iran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung