Berita, Timur Tengah

Menhan Israel: Iran ‘Akan Bayar Harga Mahal’ jika Serangan Terus Berlanjut

Repelita.id

28 March 2026 01:31 WIB

Menhan Israel: Iran ‘Akan Bayar Harga Mahal’ jika Serangan Terus Berlanjut
Foto: Istimewa

Repelita Tel Aviv - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa serangan militer ke Iran akan terus ditingkatkan dan diperluas, sebuah pernyataan yang diungkapkannya pada Jumat, 27 Maret 2026, sebagai respons atas serangan rudal yang terus dilancarkan Teheran.

Katz menegaskan bahwa dirinya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memperingatkan pemerintah Iran agar menghentikan serangan rudal yang menyasar warga sipil di Israel, namun peringatan tersebut tidak diindahkan.

ADVERTISEMENT

Meski sudah diperingatkan, serangan tetap berlanjut, karena itu operasi militer di Iran akan ditingkatkan dan diperluas ke lebih banyak target serta wilayah yang mendukung pengembangan dan penggunaan senjata terhadap warga Israel, demikian pernyataan Katz yang dikutip dari laman CBC News pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Ia juga menegaskan bahwa Iran akan membayar harga yang mahal dan terus meningkat atas tindakan agresif yang dilakukan selama konflik berlangsung.

Militer Israel menyebut serangan pada Jumat yang menyasar jantung kota Teheran menargetkan fasilitas produksi rudal balistik dan berbagai jenis senjata lainnya, serta diarahkan ke peluncur rudal dan lokasi penyimpanan di wilayah barat Iran.

Di sisi lain, asap juga terlihat membumbung di Beirut meskipun Israel belum secara resmi mengonfirmasi serangan ke ibu kota Lebanon tersebut, sementara Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut dua orang tewas akibat serangan di wilayah selatan Beirut.

Militer Israel juga melaporkan dua tentaranya dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka dalam sebuah insiden operasional di Lebanon selatan, meskipun detail tambahan mengenai insiden tersebut belum disampaikan kepada publik.

Israel sendiri telah mengerahkan ribuan pasukan ke wilayah Lebanon, dengan pejabat Israel menyatakan mereka ingin menguasai seluruh area di selatan Sungai Litani yang berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan.

Sementara itu, sirene serangan udara kembali berbunyi di Israel saat militer berupaya mencegat rudal yang ditembakkan Iran, sementara Iran terus meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Arab di Teluk.

Sirene peringatan terdengar di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab, sementara Kuwait melaporkan bahwa Pelabuhan Shuwaikh di Kuwait City mengalami kerusakan material akibat serangan meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Situasi ini terjadi menjelang pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat pagi waktu setempat untuk membahas eskalasi konflik di kawasan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa lebih dari 600 sekolah telah rusak atau hancur, serta lebih dari 1.000 siswa dan guru menjadi korban tewas maupun luka selama perang berlangsung.

Ia juga menuduh pola serangan yang disertai pernyataan pihak lawan menunjukkan adanya niat untuk melakukan genosida, sebuah pernyataan yang disampaikan melalui video dalam sidang darurat Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa.

Sidang tersebut membahas serangan pada 28 Februari di sebuah sekolah dasar di kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan lebih dari 165 orang yang sebagian besar adalah anak-anak menurut media pemerintah Iran.

Sejumlah pakar menilai ledakan itu kemungkinan besar disebabkan oleh serangan udara Amerika Serikat, meskipun pihak Amerika Serikat menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab insiden tersebut.

Secara terpisah, Organisasi Internasional untuk Migrasi atau IOM melaporkan bahwa serangan di Iran telah merusak sekitar 82.000 bangunan sipil, termasuk rumah sakit, permukiman, serta rumah milik sekitar 180.000 orang di 20 dari 32 provinsi di negara tersebut.

Sekretaris Jenderal Dewan Pengungsi Norwegia, Jan Egeland, mengatakan bahwa para pekerja kemanusiaan di Iran melaporkan tak terhitung jumlah rumah, rumah sakit, dan sekolah mengalami kerusakan atau hancur, bahkan hampir setiap kawasan di Teheran terdampak.

Warga sipil menanggung beban terbesar dari perang ini dan konflik ini harus segera dihentikan, demikian ujar Jan Egeland menyoroti penderitaan masyarakat sipil akibat eskalasi konflik yang terus berlangsung.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz selama 10 hari hingga tanggal 6 April, sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung