Berita, Nasional

Menlu Iran Tuding Pentagon Bohong, Klaim Biaya Perang AS Capai 100 Miliar Dolar Atau Setara Rp 1.600 triliun

Repelita.id

02 May 2026 13:37 WIB

Menlu Iran Tuding Pentagon Bohong, Klaim Biaya Perang AS Capai 100 Miliar Dolar Atau Setara  Rp 1.600 triliun
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas tidak hanya di medan perang tetapi juga dalam pertarungan narasi di ruang digital.

Menteri Luar Negeri Iran yang bernama Abbas Araghchi secara terbuka menuding Pentagon melakukan manipulasi angka biaya konflik di tengah tekanan keras yang dialami Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dari Kongres.

ADVERTISEMENT

Dalam pernyataannya di platform X pada tanggal 1 Mei 2026, Araghchi mengklaim bahwa biaya perang yang sesungguhnya telah mencapai angka USD 100 miliar atau setara dengan sekitar Rp1.600 triliun.

Jumlah tersebut dinilainya jauh melampaui angka resmi yang diklaim Pentagon selama ini yaitu sebesar USD 25 miliar.

“Pentagon berbohong. Taruhan (Benjamin) Netanyahu telah secara langsung membebani Amerika hingga USD 100 miliar sejauh ini, empat kali lipat dari yang diklaim,” tulis Araghchi dalam cuitannya.

Ia juga memperingatkan bahwa dampak ekonomi dari konflik berkepanjangan ini sudah mulai dirasakan secara langsung oleh warga biasa Amerika Serikat.

Menurut perhitungan menteri luar negeri Iran tersebut, rata-rata beban yang ditanggung setiap rumah tangga di AS mencapai sekitar 500 dolar per bulan tanpa menghitung biaya tidak langsung lainnya.

Sementara itu di Washington, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menjadi sasaran kritik tajam dalam sidang panas yang digelar di bawah pemerintahan Donald Trump.

Sejumlah legislator dari Partai Demokrat menyoroti konflik mahal yang dinilai berjalan tanpa persetujuan resmi dari Kongres Amerika Serikat.

Dalam forum tersebut Pentagon tetap mempertahankan angka biaya perang di kisaran 25 miliar dolar AS sambil mengajukan proposal anggaran militer 2027 mencapai USD 1,5 triliun.

Nilai tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah anggaran pertahanan Amerika Serikat yang pernah diajukan ke lembaga legislatif.

Tokoh Demokrat seperti Adam Smith dan John Garamendi menuduh pemerintahan Trump tidak transparan dan bahkan dinilai menyesatkan publik mengenai alasan sesungguhnya di balik perang.

“Anda telah berbohong kepada rakyat Amerika sejak hari pertama,” ujar Garamendi dalam sidang yang berlangsung sengit tersebut.

Hegseth menepis seluruh tudingan yang dilayangkan kepadanya dan menyebut semua kritik itu tidak lebih dari serangan politik belaka.

Konflik ini juga berdampak langsung pada perekonomian global setelah Iran mengambil keputusan drastis untuk menutup Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak dunia sehingga penutupan memicu lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara.

Sebagai respons atas langkah Iran tersebut, militer Amerika Serikat mengerahkan kekuatan besar ke kawasan Timur Tengah termasuk tiga kapal induk sekaligus.

Pengerahan tiga kapal induk dalam satu kawasan ini merupakan pertama kalinya dilakukan dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun terakhir.

Pernyataan keras Abbas Araghchi di media sosial X menambah dimensi baru yang memperlihatkan bahwa perang tidak hanya terjadi di medan laga tetapi juga dalam perebutan opini publik global.

Di satu sisi Pentagon berupaya mati-matian mempertahankan legitimasi dan angka resmi biaya perang di hadapan Kongres dan rakyat Amerika.

Di sisi lain Iran berusaha membangun narasi bahwa beban ekonomi perang sebenarnya jauh lebih besar daripada yang diakui oleh Washington.

Dampak perang juga terasa nyata bagi warga sipil di dalam negeri Iran sebagaimana dilaporkan oleh media-media lokal.

Puluhan warga Teheran yang mengungsi akibat perang selama 40 hari melawan AS dan Israel kini diminta meninggalkan hotel tempat penampungan sementara.

Para pengungsi itu menerima instruksi dari otoritas kota untuk keluar dalam waktu dekat meskipun hasil inspeksi resmi menyatakan rumah mereka masih dalam kondisi rusak parah akibat serangan rudal.

“Saya diminta keluar dari hotel akhir pekan ini, padahal rumah saya tidak aman dan saya tidak punya tempat lain,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Banyak dari mereka juga mengeluhkan tidak adanya bantuan biaya sewa ataupun dukungan finansial lain yang memadai dari pemerintah.

Bahkan sebagian besar korban harus mencari tempat tinggal sendiri secara mandiri tanpa bantuan aparat setempat.

Pemerintah Iran sebelumnya sempat menjanjikan bantuan berupa tempat tinggal sementara, subsidi sewa hingga dukungan rekonstruksi bagi para korban perang.

Namun realisasi di lapangan dinilai tidak konsisten dan jauh dari harapan masyarakat yang terdampak konflik.

Beberapa warga mengatakan bantuan yang diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka.

Korban lainnya mengaku harus mengeluarkan biaya sendiri terlebih dahulu sebelum diganti oleh pemerintah dengan waktu tunggu yang mencapai hingga 10 bulan.

“Kami kehilangan segalanya. Dengan bantuan itu, kami hanya bisa membeli beberapa barang dasar,” kata seorang korban kepada media setempat.

Dengan rata-rata pendapatan masyarakat Iran yang hanya sekitar USD 150 hingga 200 per bulan, banyak keluarga kini kesulitan membangun kembali kehidupan mereka dan terancam kehilangan tempat tinggal secara permanen.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung