Repelita Teheran - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan keras kepada Amerika Serikat dalam peringatan Hari Teluk Persia yang digelar pada Kamis (30/4/2026).
Dalam pernyataan tertulis yang dibacakan di televisi nasional Iran, ia menegaskan bahwa kawasan Teluk Persia akan memasuki babak baru yang bebas sama sekali dari kehadiran Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
"Satu-satunya tempat bagi Amerika di Teluk Persia adalah di dasar perairannya," ujar Mojtaba Khamenei dikutip dari Times of Israel pada Jumat (1/5/2026).
Putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei itu juga menekankan bahwa masa depan kawasan Teluk Persia akan terbebas dari segala bentuk pengaruh dan intervensi asing.
Ia menyebut dengan dukungan dan kekuatan dari Tuhan Yang Maha Esa, kawasan tersebut akan berkembang menjadi wilayah yang melayani kemajuan, kenyamanan, dan kemakmuran rakyatnya.
Mojtaba Khamenei mengajak seluruh negara di kawasan Teluk Persia untuk lebih berfokus pada kesejahteraan bersama tanpa campur tangan kekuatan luar.
"Iran dan negara-negara tetangganya memiliki nasib yang sama," ujarnya mengingatkan bahwa pihak asing yang datang dari jauh dengan "niat buruk" tidak memiliki tempat di kawasan tersebut.
Dalam pernyataannya yang bernada keras, pemimpin tertinggi Iran juga menegaskan bahwa negaranya akan terus mempertahankan dan mengembangkan seluruh kemampuan teknologinya.
Kemampuan tersebut mulai dari program nuklir yang selama ini menjadi sengketa dengan Barat hingga pengembangan rudal balistik yang terus ditingkatkan.
Menurut pandangannya, kemampuan nuklir dan misil balistik merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas dan kedaulatan negara yang wajib dijaga mati-matian.
Pernyataan bernada konfrontatif ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di berbagai lini.
Situasi semakin kompleks dengan upaya Presiden AS Donald Trump untuk memperluas kesepakatan damai yang hingga saat ini belum menunjukkan hasil signifikan di lapangan.
Ketegangan juga dipicu oleh posisi strategis Iran yang masih mengendalikan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia setiap harinya.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus menekan ekspor minyak Iran melalui kebijakan blokade maritim yang berdampak signifikan pada pasar energi global dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam kondisi saling sengkarut tersebut, harga minyak dunia sempat melonjak tajam ke level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Kenaikan harga minyak tidak hanya menekan pemulihan ekonomi global, tetapi juga menambah beban berat bagi pemerintah Amerika Serikat menjelang agenda politik penting di dalam negeri.
Para pengamat internasional meyakini bahwa retorika keras dari pemimpin tertinggi Iran ini merupakan sinyal bahwa Teheran tidak akan pernah tunduk pada tekanan Washington.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok