Repelita [Jakarta] - Pengiriman tahap awal komoditas minyak mentah dari wilayah Rusia dilaporkan telah sampai di Indonesia.
Kabar mengenai tibanya pasokan energi tersebut dikonfirmasi langsung oleh Perwakilan Diplomatik Rusia Sergei Tolchenov.
ADVERTISEMENT
Meski begitu ia memilih tidak membeberkan besaran volume maupun rincian angka transaksi finansial karena pengadaan ini murni ikatan komersial antarentitas bisnis.
"Ini sepenuhnya bersifat komersial. Bukan kedutaan saya yang menjual minyak, bukan negara Rusia, bukan pemerintah Rusia, melainkan perusahaan-perusahaan Rusia, perusahaan minyak dan gas," ujar Tolchenov.
Ia menekankan bahwa informasi detail mengenai kontrak komersial berada di luar ranah kewenangan kedutaan untuk dibuka ke publik.
Meski enggan membeberkan detail operasional, perwakilan diplomatik itu memvalidasi berita yang sempat diutarakan pejabat otoritas energi nasional.
"Saya telah membaca di media lokal bahwa Pak Bahlil Lahadalia mengatakan pengiriman pertama minyak Rusia telah tiba. Saya percaya dia mengatakan yang sebenarnya. Itu memang benar-benar terjadi," kata Tolchenov.
Ia tidak menjelaskan waktu pasti kedatangan muatan kapal tanker tersebut maupun jajaran perseroan yang terlibat dalam transaksi ini.
Ia berharap hubungan dagang komersial antarperusahaan ini bisa berjalan terus secara berkelanjutan di masa depan.
"Jadi, tolong jangan tanyakan kepada saya angka konkretnya. Tetapi yang paling penting bagi saya adalah ini berlangsung, dan saya berharap akan terus berlangsung," ujarnya.
Diplomat tersebut menambahkan bahwa komoditas yang dikirim ke Indonesia tidak hanya terbatas pada sektor energi minyak semata.
"Gandum datang, minyak datang, pupuk datang," kata dia.
Peningkatan realisasi komersial kedua negara tecermin dari lonjakan arus barang bilateral yang mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Tolchenov merujuk data resmi lembaga statistik nasional yang menunjukkan peningkatan volume perdagangan hingga 16 persen pada semester pertama.
"Menurut data BPS, setelah enam bulan pertama, dari Januari hingga Juni 2026, perdagangan bilateral tumbuh 16 persen. Di dalamnya terdapat banyak minyak dan pupuk. Artinya, kerja sama ini terus berkembang," ujar Tolchenov.
Ia mengungkapkan bahwa seluruh aktivitas transaksi komersial kedua negara berada dalam pengawasan ekstra ketat dari negara-negara Barat.
Kondisi tersebut dibayangi oleh potensi ancaman pembatasan ekonomi terhadap para pelaku usaha yang bermitra dengan perseroan asal negaranya.
"Sayangnya, seluruh aktivitas bilateral kami berada di bawah pemantauan sangat ketat dari negara-negara Barat. Mereka tidak hanya melakukannya karena rasa ingin tahu, tetapi masih berusaha menerapkan apa yang kami sebut sanksi sekunder terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang berani bekerja sama dengan negara saya dan perusahaan-perusahaan Rusia," katanya.
Oleh sebab itu kedua pihak memilih bersikap sangat berhati-hati dalam mempublikasikan setiap alur negosiasi maupun kerja sama yang tengah berjalan.
Agenda pertemuan puncak antar pimpinan negara di wilayah Vladivostok juga diharapkan membuka peluang kesepakatan bisnis baru di sektor strategis.
"Jika pertemuan di Vladivostok digelar, kedua pemimpin akan terus membahas bagaimana meningkatkan kerja sama kami di semua bidang ini," ujarnya.
Rencana penandatanganan sejumlah dokumen kontrak komersial baru berpotensi direalisasikan pada perhelatan forum ekonomi tahunan tersebut.
"Saya telah mendengar, tetapi mohon cukup bersabar. Kemungkinan beberapa kontrak akan ditandatangani di Vladivostok dalam rangka Eastern Economic Forum," kata Tolchenov.
Kementerian ESDM sebelumnya mengonfirmasi bahwa kesepakatan pasokan minyak mentah telah diproses oleh lembaga pengujian teknis pemerintah.
"Saya coba cek secara teknis, ya. Tapi yang saya tahu adalah kontrak sudah dilakukan oleh Lemigas (Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi), BLU (Badan Layanan Umum) daripada Kementerian ESDM," kata Bahlil.
Pihak otoritas energi menyebutkan bahwa alokasi volume impor tersebut memiliki ruang besar untuk ditingkatkan pada masa mendatang.
"Untuk volume dia itu bisa berkembang lebih banyak lagi. Tapi nanti kontraknya coba saya liat lagi. Kita kan sudah ada deal antara G2G (government-to-government) dengan Presiden Putin dan Presiden Prabowo. Dan saya sudah juga melakukan komunikasi dengan Menteri ESDM Rusia," kata dia. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok