Repelita New York - Isu penggunaan senjata nuklir menjadi salah satu kekhawatiran paling serius yang diungkapkan oleh Mohamad Safa, yang baru-baru ini mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Eksekutif organisasi Patriotic Vision atau PVA di Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB.
Safa mengungkapkan bahwa ia melihat adanya tanda-tanda yang mengkhawatirkan bahwa dunia mulai bergerak menuju skenario yang melibatkan penggunaan senjata nuklir, sebuah ancaman yang selama ini dianggap sebagai skenario terburuk dalam hubungan internasional.
ADVERTISEMENT
Ia bahkan menilai bahwa PBB tidak lagi sekadar memantau situasi dari kejauhan, tetapi sudah mulai bersiap untuk menghadapi kemungkinan penggunaan senjata pemusnah massal tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung.
Saya tidak bisa dengan hati nurani tetap menjadi bagian saat PBB bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir, demikian ujar Safa dalam pernyataan pengunduran dirinya yang diunggah di media sosial X pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Menurut Safa, meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kekhawatiran tersebut, karena konflik yang terus memanas dinilai berpotensi naik ke level yang lebih berbahaya.
Ia menilai bahwa eskalasi yang terjadi saat ini tidak lagi terkendali, dan ada risiko nyata bahwa konflik yang awalnya bersifat konvensional dapat melibatkan senjata pemusnah massal jika tidak segera diredam.
Ia juga menyoroti narasi global yang terus digaungkan mengenai ancaman nuklir Iran, yang menurutnya tidak sepenuhnya netral dan berpotensi digunakan untuk membentuk opini publik agar mendukung eskalasi konflik yang lebih luas.
Safa menilai bahwa isu nuklir Iran selama ini sering dibesar-besarkan untuk kepentingan politik tertentu, sehingga menciptakan persepsi ancaman yang tidak proporsional di mata dunia internasional.
Selain itu, kawasan Timur Tengah termasuk Israel saat ini berada dalam kondisi yang sangat rentan, di mana setiap langkah yang salah dapat memicu reaksi berantai yang membawa kawasan tersebut ke jurang perang besar.
Dalam situasi yang sudah sangat panas seperti ini, isu nuklir bukan lagi menjadi ancaman teoritis yang hanya dibahas dalam forum-forum akademik, tetapi mulai dianggap sebagai skenario nyata yang harus diantisipasi oleh semua pihak.
Pengunduran diri Safa yang diumumkan secara terbuka ini menjadi sinyal keras bahwa kekhawatiran terhadap perang nuklir kembali mencuat di kalangan para pejabat internasional yang selama ini berada di dalam sistem PBB.
Ia memperingatkan bahwa jika konflik global yang saat ini berkecamuk tidak segera diredam melalui jalur-jalur diplomasi yang konstruktif, dunia bisa menghadapi konsekuensi yang jauh lebih besar dan berbahaya dari yang pernah dibayangkan sebelumnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok