Repelita New York - Keputusan Direktur Eksekutif organisasi Patriotic Vision atau PVA, Mohamad Safa, untuk menangguhkan tugasnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB bukan sekadar pengunduran diri biasa, karena ia justru menyoroti dugaan pembungkaman suara dan pembatasan kebebasan berpendapat di dalam lembaga internasional tersebut.
Safa mengaku bahwa sejak ia mulai menyampaikan pandangan yang berbeda terkait konflik Gaza dan Iran pada tahun 2023, ia mulai menghadapi berbagai tekanan yang datang silih berganti dari berbagai arah.
ADVERTISEMENT
Tekanan yang ia alami meliputi kritik keras, tuduhan yang dialamatkan kepadanya, hingga sanksi finansial yang memberatkan, bahkan ia mengklaim telah menerima ancaman terhadap keselamatan dirinya dan keluarganya.
Dalam pernyataannya, Safa menyebut bahwa dirinya tidak lagi merasa bebas untuk berbicara di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa karena ada pejabat senior yang diduga menyalahgunakan kekuasaan untuk membatasi narasi tertentu.
Pembatasan tersebut terutama terjadi terhadap pandangan-pandangan yang dianggap bertentangan dengan kepentingan pihak-pihak yang memiliki pengaruh kuat di dalam struktur organisasi dunia tersebut.
Saya menerima ancaman pembunuhan, dikenai sanksi finansial, dan sekarang saya disensor, hak saya untuk berbicara dibatasi, demikian ungkap Safa dalam pernyataannya yang mengungkapkan kekecewaan mendalam.
Menurut Safa, tekanan yang ia alami ini tidak datang dari sistem resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa secara langsung, melainkan berasal dari oknum pejabat tinggi yang diduga melayani kepentingan lobi-lobi kuat di balik layar.
Hal inilah yang membuatnya merasa bahwa ia tidak lagi memiliki ruang yang cukup untuk menyuarakan pandangan secara jujur dan terbuka sebagaimana mestinya di dalam institusi multilateral tersebut.
Ia juga menyinggung adanya pola yang lebih besar, yaitu dugaan kampanye disinformasi global yang sengaja dibangun untuk membentuk opini publik yang mendukung peperangan di berbagai kawasan.
Safa menilai bahwa narasi ancaman Iran sengaja dibesar-besarkan untuk kepentingan tertentu, seperti yang menurutnya juga terjadi dalam narasi konflik Gaza yang selama ini ia soroti.
Situasi yang tidak sehat dan tidak transparan ini membuat Safa memilih untuk mundur sementara dari semua peran yang ia emban di Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai bentuk protes.
Baginya, keputusan untuk menangguhkan tugas ini adalah langkah konkret untuk menunjukkan ketidakpuasannya terhadap kondisi internal yang dinilai telah menyimpang dari prinsip-prinsip dasar organisasi.
Safa menegaskan bahwa ia tidak akan kembali sebelum ada perubahan nyata yang dilakukan terhadap sistem dan budaya kerja di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia berharap agar reformasi di tubuh Perserikatan Bangsa-Bangsa benar-benar dilakukan sehingga kebebasan berpendapat dan prinsip keadilan dapat ditegakkan kembali sebagaimana mestinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok