Berita, Timur Tengah

Mojtaba Khamenei diisukan kritis di tengah gencatan senjata dengan AS, kekuasaan Iran dipertanyakan

Repelita.id

08 April 2026 14:45 WIB

Mojtaba Khamenei diisukan kritis di tengah gencatan senjata dengan AS, kekuasaan Iran dipertanyakan
Foto: Istimewa

Repelita Qom - Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dikabarkan berada dalam kondisi kesehatan yang kritis di tengah proses gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.

Informasi ini pertama kali mencuat melalui laporan The Times yang mengutip memo diplomatik berbasis intelijen dari AS dan Israel, yang menyebutkan bahwa Khamenei tengah menjalani perawatan medis intensif di kota suci Qom.

ADVERTISEMENT

Memo tersebut bahkan mengklaim bahwa putra dari Ali Khamenei itu berada dalam kondisi tidak sadar dan tidak mampu menjalankan tugas kenegaraan secara normal.

Akibat kabar ini, pertanyaan besar pun muncul mengenai siapa yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di Iran di tengah kesepakatan gencatan senjata dengan AS.

Sejauh ini, hanya dua pernyataan yang dikaitkan dengan namanya yang disiarkan melalui televisi pemerintah, tanpa bukti rekaman langsung berupa video maupun audio.

Ketiadaan bukti visual tersebut menimbulkan keraguan luas di kalangan publik dan kelompok oposisi mengenai kondisi sebenarnya dari pemimpin tertinggi Iran.

Para analis mulai mempertanyakan apakah pemerintahan saat ini dijalankan secara kolektif oleh para elite atau justru didominasi oleh Korps Garda Revolusi Islam.

Pemerintah Iran secara resmi tetap menyatakan bahwa sistem pemerintahan berjalan normal, namun kurangnya transparansi membuat situasi kepemimpinan tetap menjadi teka-teki.

Meski Mojtaba Khamenei diisukan dalam kondisi kritis, Iran tetap menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan Amerika Serikat setelah konflik lebih dari satu bulan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa pemerintah Iran menerima kesepakatan tersebut dan menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perundingan damai.

"Selama periode ini [gencatan dua pekan], penting untuk menjaga persatuan nasional secara penuh serta melanjutkan perayaan kemenangan dengan kuat," demikian pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Selasa (7/4/2026).

Salah satu poin penting dalam kesepakatan ini adalah pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup akibat operasi militer AS dan sekutunya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung