Berita, Timur Tengah

Mojtaba Khamenei Peringatkan AS-Israel, Iran Siap Beri Kekalahan Telak di Laut

Repelita.id

20 April 2026 17:27 WIB

Mojtaba Khamenei Peringatkan AS-Israel, Iran Siap Beri Kekalahan Telak di Laut
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Jelang berakhirnya masa gencatan senjata, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel.

Mojtaba berjanji bahwa pihaknya akan memberikan kekalahan telak kepada Amerika maupun Israel dalam setiap pertempuran yang terjadi.

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini semakin meningkatkan situasi panas yang sudah membara di kawasan strategis Selat Hormuz.

"Angkatan laut Iran siap untuk memberikan kekalahan telak kepada musuh-musuhnya," katanya dikutip dari kanal YouTube Kompas pada Minggu, 19 April 2026.

Ia menegaskan bahwa tentara Iran kini berdiri dalam barisan yang rapat dan teguh, bahu membahu dengan para pejuang lain di angkatan bersenjata.

Mereka telah berhadapan langsung dengan dua kekuatan utama dari kubu arogansi internasional.

"Mereka telah bertempur melawan dua kekuatan utama dari barisan yang angkuh dan berhasil menunjukkan kelemahan serta kehinaan lawan di mata dunia," tegasnya.

"Sebagaimana pesawat nirkabel (drone) militer yang menyambar para penjahat Amerika dan Zionis Israel bak kilat," sambung pemimpin tertinggi Iran tersebut.

"Angkatan laut yang gagah berani juga kini bersiap memberikan kekalahan baru yang menyakitkan bagi musuh-musuhnya," timpal dia lagi.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa negaranya tidak mencari perang dan hanya bertindak untuk membela diri terhadap agresi AS dan Israel.

Disitat dari Al Jazeera, Pezeshkian menuding AS dan Israel menargetkan infrastruktur sipil secara membabi buta.

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan bukti nyata standar ganda dalam hak asasi manusia.

“Kami tidak menyerang negara mana pun, dan dalam situasi saat ini kami tidak bermaksud menyerang pihak mana pun, dan kami hanya membela diri secara sah,” katanya seperti dikutip oleh kantor berita ISNA.

“Jangan sampai ada yang mengatakan bahwa Iran mencari perang. Sebaliknya, kami cinta damai dan apa yang kami lakukan adalah pembelaan diri yang sah. Sama seperti setiap manusia bereaksi terhadap agresi, suatu bangsa juga membela diri terhadap serangan," sambungnya.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf mengatakan bahwa Teheran secara bersamaan terlibat dalam diplomasi dan siap untuk konfrontasi militer.

Hal ini menekankan bahwa negara tersebut tidak mempercayai musuh-musuhnya dan siap untuk segala bentuk perang.

"Perang ketiga yang dipaksakan, dimulai selama negosiasi melalui tipu daya AS," katanya dikutip dari Tasnim News pada Minggu, 19 April 2026.

Ia menambahkan bahwa konflik-konflik sebelumnya juga dimulai dengan pembunuhan terhadap para komandan Iran.

Ghalibaf memastikan bahwa Iran memasuki konflik baru-baru ini dengan pengalaman yang diperoleh dari perang 12 hari sebelumnya pada Juni 2025 lalu.

Menurutnya, Teheran telah menunjukkan keunggulan yang jelas dalam hal perencanaan, kualitas, dan pelaksanaan operasi militer.

"Meskipun musuh mungkin tidak mempercayai ini, mereka telah menyaksikannya di medan perang."

Ghalibaf juga mengatakan bahwa pasukan Iran telah mencegat antara 170 hingga 180 drone selama perang agresi AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Mereka juga berhasil menembak jatuh jet tempur canggih sebagai hasil dari upaya desain dan operasional ekstensif yang dikembangkan selama berbulan-bulan.

Ghalibaf menilai bahwa AS maupun sekutunya terus salah memperhitungkan kekuatan strategi militer Republik Islam.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pihaknya telah dengan tegas menolak tekanan dan membalas setiap ancaman, termasuk ultimatum yang dikaitkan dengan Presiden AS Donald Trump.

Ghalibaf memperingatkan bahwa setiap bentuk eskalasi akan memiliki konsekuensi berat bagi Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Ia juga menegaskan kembali bahwa pihaknya menginginkan perdamaian yang langgeng tetapi tetap sangat tidak mempercayai Amerika Serikat.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menembaki sedikitnya dua kapal dagang berbendera India di Selat Hormuz pada Sabtu, 18 April 2026.

Tindakan ini merupakan respons langsung terhadap blokade maritim yang masih dilakukan oleh Amerika Serikat di laut lepas dekat Selat Hormuz.

Pengamat Timur Tengah, Pizaro Gozali Idrus, menilai tindakan itu membuktikan bahwa Republik Islam tidak main-main dengan ancaman yang dilontarkan.

"Ini kapal India yang ditembak loh. Ini enggak main-main. Ini kan India negara besar. Dia punya penduduk yang sangat besar. Dia punya leverage ekonomi sangat besar. Tetapi itu pun tidak menjamin bebas dari tembakan. Padahal India ini juga punya investasi di Iran," katanya dikutip dari kanal YouTube tvOne.

"Makanya kan sebelumnya India tuh salah satu negara yang mendapat privilege bersama Malaysia bersama negara-negara yang lain Bangladesh, Pakistan untuk bisa keluar (dari Selat Hormuz) gitu," sambungnya.

Ia pun menjelaskan alasan mengapa Iran berani menembak kapal India di tengah ketegangan global.

"Nah kalau Iran sudah berani artinya pesan kepada Donald Trump bahwa kami itu tidak mau negosiasi yang main-main ya. Kami tidak mudah didikte dan diancam," ucap Idrus.

Menurut Idrus, Donald Trump sengaja melakukan blokade di wilayah Selat Oman untuk menekan Teheran agar mau ke meja perundingan dengan tuntutan yang lebih rendah.

"Karena Iran itu masih memasok minyaknya kepada China dan mendapatkan keuntungan ekonomi di situ. Itu yang mau disetop sama Amerika. Trump itu kan frustasi. Ini sudah saya habisi fasilitas nuklirnya, klaimnya Trump sudah kami bunuh para pemimpinnya. Kok masih survive Iran?"

Bahkan, Republik Islam masih mendapat banyak keuntungan ekonomi dari ekspor minyak terbukti dengan adanya sekitar 2 juta barel minyak per hari yang dikeluarkan Iran ke negara-negara lain.

"Maka ditutup sama Trump. Incarannya dua, dia (Trump) pingin menghabisi ekonomi Iran. Kedua juga pesan kepada China. Dia ingin menekan China agar China itu juga bisa menekan Iran untuk mau menerima konsensi kesepakatan senjata dalam negosiasi putaran kedua di Pakistan," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Angkatan Laut IRGC mengatakan Selat Hormuz ditutup dan setiap kapal yang mencoba melewati jalur air tersebut akan menjadi sasaran tembak.

Disitat dari Tasnim News, angkatan laut IRGC mengatakan bahwa selat tersebut akan ditutup sampai Amerika Serikat mencabut blokade angkatan lautnya terhadap kapal dan pelabuhan Iran.

IRGC menyebut bahwa blokade tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata yang sedang berlangsung.

"Kami memperingatkan bahwa tidak ada kapal jenis apa pun yang boleh meninggalkan tempat berlabuhnya di Teluk Persia dan Laut Oman, dan mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran,” demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung