Berita, Timur Tengah

Mojtaba Khamenei Tegas: Nuklir, Rudal, dan Selat Hormuz Tak Akan Diserahkan

Repelita.id

01 May 2026 12:18 WIB

Mojtaba Khamenei Tegas: Nuklir, Rudal, dan Selat Hormuz Tak Akan Diserahkan
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan komitmennya untuk tidak menyerahkan teknologi nuklir maupun kemampuan rudal negaranya kepada pihak manapun.

Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada Kamis (30/4), Khamenei juga memberikan sinyal kuat bahwa Teheran akan terus mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

"Republik Islam akan menjaga teknologi canggihnya seperti halnya menjaga perbatasannya sendiri," ujar Mojtaba Khamenei dalam pengumuman resmi tersebut.

Dia berjanji akan mengamankan kawasan Teluk Persia serta membongkar apa yang disebutnya sebagai eksploitasi musuh di jalur perairan strategis itu.

Mojtaba Khamenei menggantikan posisi ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tanggal 28 Februari lalu.

Sejak pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi, putra mendiang Ayatollah tersebut belum pernah terlihat atau terdengar di hadapan publik.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa dirinya juga mengalami luka parah dalam serangan udara yang sama yang menewaskan ayahnya beberapa bulan lalu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa blokade angkatan laut yang diterapkan negaranya terhadap Iran berhasil menekan rezim Teheran.

Trump menyebut blokade pelabuhan Iran lebih efektif dibandingkan pemboman karena mampu mencekik ekonomi negara itu lewat pembatasan ekspor minyak.

Washington menginginkan Teheran menyetujui pembatasan ketat terhadap program pengayaan nuklir serta menyerahkan seluruh persediaan uranium yang telah diproses secara intensif.

Menurut laporan Axios, para komandan militer AS akan segera memberi pengarahan kepada Trump mengenai berbagai opsi respons terkait kondisi terbaru di Timur Tengah.

Komando Pusat AS (Centcom) yang mengawasi pasukan Amerika di kawasan tersebut telah menyiapkan rencana gelombang serangan singkat untuk memecah kebuntuan negosiasi dengan Iran.

Harga minyak dunia berfluktuasi tajam pada perdagangan Kamis (30/4) menyusul ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di kawasan Teluk.

Harga minyak berjangka Brent sempat melesat ke level tertinggi selama masa perang di angka 126 dolar AS per barel sebelum akhirnya turun menjadi 114 dolar AS.

Meski demikian, harga komoditas tersebut masih tercatat naik lebih dari delapan persen sepanjang pekan ini karena kekhawatiran akan kembalinya permusuhan dan penutupan berkepanjangan Selat Hormuz.

Para analis dari Bloomberg Economics, Becca Wasser dan Chris Kennedy, menilai bahwa Trump ingin mengakhiri perang Iran tetapi tidak dengan syarat yang diusulkan Teheran.

"Trump ingin mengakhiri perang Iran, tetapi bukan dengan syarat yang diusulkan oleh Teheran," kata kedua analis tersebut dalam kajiannya.

Mereka menambahkan bahwa pertanyaannya kini bukan lagi apakah presiden AS akan meningkatkan eskalasi, melainkan kapan dan bagaimana hal itu akan dilakukan.

"Kami pikir jendela yang paling mungkin untuk bertindak adalah dalam dua minggu ke depan, dan serangan AS yang diperbarui adalah langkah yang paling mungkin,” papar mereka lebih lanjut.

Pemerintah Iran menyatakan tidak akan membuka kembali jalur selat tersebut untuk kapal-kapal komersial sebelum Amerika Serikat mencabut blokadenya secara total.

Hingga saat ini belum jelas berapa lama lagi Iran memiliki waktu sebelum kehabisan kapasitas penyimpanan minyak dan terpaksa mengurangi produksinya secara signifikan.

Tanda-tanda tekanan pada ekonomi Iran sudah mulai muncul dalam beberapa hari terakhir dengan mata uang negara itu yang melemah ke titik terendah baru sepanjang sejarah.

Trump pada Rabu (30/4) mengatakan kepada wartawan bahwa pembicaraan terus berlanjut "melalui telepon" antara kedua pihak setelah upaya pertemuan di Pakistan pada akhir pekan lalu gagal tercapai.

Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, memperingatkan bahwa guncangan energi yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah bahkan belum mencapai puncaknya.

Dalam konferensi persnya, Powell menyatakan bahwa konflik berkepanjangan di kawasan tersebut telah menambah tingkat ketidakpastian ekonomi global secara signifikan.

Seorang pejabat senior Gedung Putih mengungkapkan bahwa AS berupaya menyita dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran yang sebelumnya disita oleh pasukan angkatan laut.

Militer AS tengah mempertimbangkan untuk mengirim rudal hipersonik Dark Eagle ke Timur Tengah sebagai opsi untuk digunakan melawan Iran.

Sistem persenjataan jarak jauh tersebut diperlukan untuk menyerang peluncur rudal balistik Iran yang ditempatkan jauh di dalam wilayah negeri itu.

Para pejabat tinggi Pentagon akhirnya menetapkan angka anggaran untuk perang di Iran sejauh ini selama sidang kongres yang penuh perdebatan pada hari Rabu.

Namun, sejumlah analis menyatakan bahwa angka 25 miliar dolar AS yang disebutkan tersebut kemungkinan meremehkan total biaya riil yang sebenarnya telah dihabiskan dalam konflik tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung