Repelita Jakarta - Sebuah momen langka terjadi di ruang rapat terbatas Istana Negara ketika Wakil Presiden Ma'ruf Amin tiba-tiba meluapkan kemarahan yang selama ini terpendam.
Suaranya terdengar berat, tegas, dan menggema di seisi ruangan, membuat semua peserta rapat terdiam kaku.
ADVERTISEMENT
"Saya yang bertanggung jawab, ini harus dibatalkan," kata Ma'ruf Amin dengan nada tinggi yang tidak biasa keluar dari mulut seorang ulama kalem.
Di sudut ruangan yang lain, Presiden Joko Widodo hanya terdiam seribu bahasa tanpa mampu melontarkan sepatah kata pun.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, disebut ikut tersentak mendengar ledakan amarah sang wapres.
Momen murka ini diungkap oleh Ikhsan Abdullah, Staf Khusus Wakil Presiden periode 2019–2024, dalam sebuah podcast bersama jurnalis senior Margi Syarif.
Ikhsan menceritakan bagaimana selama lebih dari lima tahun mendampingi, ia jarang sekali melihat atasannya menunjukkan emosi seterang itu di depan umum.
"Saya yang bertanggung jawab, ini harus dibatalkan," ulang Ikhsan menirukan ucapan tegas Ma'ruf Amin dalam rapat tersebut.
Pemicu kemarahan sang wapres tidak lain adalah polemik Peraturan Presiden tentang investasi minuman beralkohol yang tengah menjadi sorotan publik.
Tekanan dari masyarakat serta penolakan keras dari berbagai organisasi keagamaan membuat Ma'ruf merasa harus mengambil sikap tegas.
Dalam rapat tersebut, ia tidak lagi berbicara sebagai simbol atau pelengkap pemerintahan, melainkan sebagai otoritas moral tertinggi.
Ia menolak keras kebijakan yang dianggapnya melanggar batas-batas norma dan nilai keagamaan yang dijunjung masyarakat.
Suasana ruang rapat yang tadinya panas tiba-tiba menjadi hening setelah sang wapres melontarkan pernyataan kontroversialnya.
Jokowi yang duduk di kursi terdepan disebut hanya bisa mengangguk pelan tanpa berani memotong pembicaraan.
Luhut yang terkenal dengan gaya bicaranya yang keras pun terlihat tersentak dan memilih untuk bungkam seribu bahasa.
Tak lama setelah rapat selesai, kebijakan Perpres investasi minuman beralkohol tersebut resmi dibatalkan oleh pemerintah.
Kemenangan kecil ini menjadi bukti bahwa di balik sosok Ma'ruf Amin yang pendiam, tersimpan otoritas moral yang tidak bisa diremehkan.
Sebelum momen murka itu, Ikhsan mengaku sering melihat atasannya seperti kehilangan daya di lingkungan kekuasaan.
Ia mengibaratkan Ma'ruf sebagai "listrik besar yang disetrum ke bumi hingga langsung mati" dalam praktik pemerintahan sehari-hari.
Namun, ketika kebijakan sudah dinilai menyentuh batas moral yang paling dasar, sang ulama memilih untuk angkat bicara dengan caranya sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok