Repelita Teheran - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, muncul dari persembunyiannya dengan melontarkan ejekan dan tawa atas klaim kemenangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perang melawan Iran, Kamis (30/4/2026).
Dalam pesan tertulis yang dipublikasikan dan dibacakan di televisi pemerintah Iran, Khamenei mendeklarasikan bahwa Amerika Serikat telah mengalami "kekalahan memalukan" dalam konflik yang berlangsung selama dua bulan terakhir ini.
ADVERTISEMENT
"Amerika Serikat sama sekali tidak berhasil dalam rencananya," demikian bunyi pernyataan Khamenei yang secara eksplisit menertawakan kegagalan Trump di medan perang.
Bahkan sebelum pernyataan resmi pemimpin tertinggi Iran ini beredar, ejekan terhadap Trump sudah lebih dulu dilancarkan melalui media sosial oleh Kedutaan Besar Iran di Ghana pada 27 April 2026.
Dalam unggahan yang viral tersebut, Iran membuat video bergaya Lego yang memperlihatkan Trump sedang tertidur pulas di kursi Kepresidenan.
"Dia pasti bermimpi bahwa dia mengalahkan Iran. Biarkan dia tidur," cuit akun Kedutaan Besar Iran di Ghana di platform X, dengan gaya sindiran yang khas.
Video berdurasi pendek itu memperlihatkan seorang ajudan yang bertanya, "Mari kita bangunkan dia," namun ajudan lainnya menjawab, "Kita tidak bisa melakukan itu karena Presiden sedang berpikir untuk memenangkan Iran dalam mimpinya."
Ejekan ini muncul sebagai respons atas klaim berulang Trump bahwa Amerika Serikat telah "memenangkan perang" melawan Iran, sementara fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Khamenei, yang diangkat sebagai pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan awal AS-Israel pada 28 Februari lalu, belum pernah muncul secara fisik di depan publik sejak saat itu.
Intelijen Amerika Serikat bahkan sempat meyakini bahwa Mojtaba Khamenei berada dalam kondisi kritis akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan tersebut.
Dalam pernyataan tertulisnya kali ini, Khamenei juga menegaskan bahwa sebuah babak baru bagi kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz kini telah terbuka.
"Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer terbesar dan agresi oleh para kekuatan arogan dunia di kawasan, serta kegagalan memalukan Amerika Serikat dalam rencananya, sebuah babak baru tengah terbuka bagi Teluk Persia dan Selat Hormuz," kata Khamenei.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan baru Selat Hormuz akan membawa ketenangan, kemajuan, dan manfaat ekonomi bagi seluruh negara di kawasan tersebut.
"Mereka yang ikut campur dari ribuan kilometer jauhnya tidak memiliki tempat di sana kecuali di dasar perairannya," ujar Khamenei mengecam kehadiran militer AS di kawasan Teluk.
Pejabat senior Iran, Azim Ebrahimpour, sebelumnya sempat meluruskan bahwa laporan mengenai cedera parah yang dialami Khamenei adalah berita palsu yang sengaja disebarkan untuk menciptakan perpecahan di internal Iran.
Ketidakpastian mengenai keberadaan fisik Khamenei memang memicu banyak pertanyaan tentang siapa yang saat ini benar-benar memegang kendali tertinggi di Iran.
Namun dengan pernyataan yang keluar saat ini, Khamenei menunjukkan bahwa dirinya masih aktif memimpin meskipun dari tempat persembunyian yang tidak diketahui.
Terkait Selat Hormuz, Iran telah memberlakukan sistem pungutan baru terhadap kapal-kapal yang melintas, sebagai bagian dari "pengelolaan baru" yang diumumkan Khamenei.
Sebelumnya, Trump sempat memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam batas waktu yang ditentukan.
Namun ancaman Trump tersebut dijawab oleh Iran hanya dengan ejekan bahwa mereka "kehilangan kunci" selat tersebut.
Kini, dengan pernyataan terbaru Khamenei yang menegaskan "kekalahan memalukan AS" serta ejekan melalui media sosial, Iran menunjukkan bahwa mereka tidak gentar sedikit pun terhadap tekanan maksimal Washington.
Azim Ebrahimpour, pejabat senior Iran, mengatakan bahwa Mojtaba hanya mengalami luka ringan di kakinya akibat ledakan rudal saat sedang berada di halaman kompleks kediaman ayahnya.
Laporan mengenai cedera parah Mojtaba, tegas Ebrahimpour, adalah berita palsu yang ditujukan untuk menciptakan perpecahan di tengah rakyat Iran di saat negara sedang berperang melawan agresi asing. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok