Berita, Nasional

Muslim Arbi Sebut Jokowi dan Gibran Jadi Bidak Politik Prabowo untuk Konsolidasi Kekuasaan

Repelita.id

08 October 2026 20:53 WIB

Muslim Arbi Sebut Jokowi dan Gibran Jadi Bidak Politik Prabowo untuk Konsolidasi Kekuasaan
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dinamika perpolitikan nasional kembali menjadi sorotan tajam di tengah berbagai spekulasi publik yang terus berkembang.

Pengamat politik Muslim Arbi menguliti situasi kontemporer yang memperlihatkan peta persaingan antara kelompok Solo dan Istana Merdeka.

ADVERTISEMENT

Analisis mendalam tersebut ia tuangkan secara tertulis melalui ulasan yang diterbitkan di Depok pada tanggal 8 Oktober 2026.

Dalam pandangannya, anggapan bahwa Presiden Prabowo Subianto masih berada di bawah bayang-bayang Joko Widodo dinilai keliru besar.

Langkah taktis dan strategi politik kerap disalahartikan sebagai bentuk ketundukan, padahal hal tersebut merupakan bagian dari kalkulasi.

Pujian berulang yang sempat dilontarkan kepada Joko Widodo selama dua tahun terakhir ditafsirkan sebagai strategi meredam situasi.

Seruan lantang yang sempat memicu kemarahan sebagian kalangan pendukung kini dibaca sebagai bagian dari trik politik tingkat tinggi.

Berbagai asumsi mengenai ketergantungan kepemimpinan kini terpatahkan lewat serangkaian gebrakan pembersihan figur-figur lama.

Langkah restrukturisasi mulai terlihat nyata tatkala sejumlah posisi strategis dirombak untuk membersihkan pengaruh masa lalu.

Pencopotan figur-figur penting di tubuh institusi penegak hukum menjadi sinyal kuat adanya perubahan arah kendali kekuasaan.

Penunjukan pimpinan baru kepolisian di bawah Jenderal Suyudi diartikan sebagai upaya pemulihan marwah institusi penegak hukum.

Polisi didorong untuk kembali pada jati diri aslinya sebagai pengayom rakyat alih-alih sekadar melayani kepentingan penguasa.

Selama satu dekade kepemimpinan sebelumnya, istilah partai cokelat sempat mencuat akibat dugaan penyimpangan arah institusi.

Kasus hukum kontroversial yang melibatkan sejumlah pengkritik rezim lama turut menjadi sorotan dalam catatan pengamatan ini.

Proses hukum terhadap beberapa tokoh masyarakat dinilai menyisakan tanda tanya besar mengenai keadilan penegakan hukum.

Bahkan sejumlah mantan menteri yang tersangkut berbagai perkara disebut-sebut belum tersentuh proses hukum secara transparan.

Indikasi keretakan hubungan kian kentara ketika momen-momen kenegaraan memperlihatkan gestur dingin di antara kedua tokoh.

Sesi foto bersama pada peringatan Hari Ulang Tahun TNI tanggal 5 Oktober lalu merekam momen tanpa jabat tangan.

Penyebutan nama Joko Widodo oleh Kepala Negara dalam pidatonya pun dilaporkan tidak lagi menyertakan gelar insinyur.

Pemandangan berbeda juga terlihat saat ajang pertandingan sepak bola di Senayan di mana posisi duduk tidak lagi berdampingan.

Puncak dari dinamika ini terjadi tatkala Mahkamah Konstitusi membacakan putusan terkait gugatan administrasi pencalonan wakil presiden.

Putusan lembaga yudikatif tersebut secara substansial menyatakan ketiadaan dokumen ijazah sah saat pendaftaran pemilu lalu.

Hasil persidangan itu kemudian diarahkan berproses melalui mekanisme parlemen di Senayan untuk tahapan lanjutan.

Rangkaian peristiwa beruntun ini memunculkan asumsi bahwa pusaran kekuasaan lama kini telah bergeser fungsi.

Joko Widodo beserta putranya dinilai telah diposisikan sebagai bidak catur dalam strategi konsolidasi kekuatan besar.

Langkah pembenahan negara secara menyeluruh diyakini akan segera mendapat dukungan penuh dari parlemen maupun rakyat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung