Berita, Timur Tengah

Negosiasi AS-Iran di Islamabad Tanpa Tatap Muka, Iran Tolak Foto Bareng Vance dan Minta Gencatan Senjata Lebanon

Repelita.id

11 April 2026 14:14 WIB

Negosiasi AS-Iran di Islamabad Tanpa Tatap Muka, Iran Tolak Foto Bareng Vance dan Minta Gencatan Senjata Lebanon
Foto: Istimewa

Repelita Islamabad - Suasana di Hotel Serena, kawasan diplomatik Islamabad, terasa tegang namun terkendali pada Sabtu pagi (11/4/2026) ketika delegasi Iran dan Amerika Serikat berada di bawah satu atap yang sama namun tidak akan berbagi ruangan.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf tiba di Islamabad pada dini hari memimpin delegasi beranggotakan 70 orang yang mencakup Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan sejumlah pejabat tinggi lainnya.

ADVERTISEMENT

Begitu turun dari pesawat, Qalibaf langsung membawa foto-foto para korban serangan AS-Israel di Minab sebagai simbol luka yang belum sembuh dari serangan terhadap sekolah dasar di kota tersebut.

"Sayangnya, pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan orang Amerika selalu disertai kegagalan dan pelanggaran komitmen," ujar Qalibaf kepada wartawan.

Ia mengingatkan bahwa dua kali dalam waktu kurang dari setahun, di tengah negosiasi dengan itikad baik dari pihak Iran, Amerika menyerang dan melakukan berbagai kejahatan perang.

Kendati demikian, Qalibaf menegaskan bahwa Republik Islam tetap membuka pintu bagi kesepakatan yang adil dengan Amerika Serikat.

"Kami memiliki itikad baik, tetapi kami tidak memiliki kepercayaan," tegasnya di hadapan awak media.

Ia memberikan peringatan keras bahwa jika Amerika menggunakan negosiasi sebagai pertunjukan sia-sia atau operasi penipuan, Iran siap mempertahankan hak-haknya.

Sikap tidak percaya Teheran terhadap Washington tercermin dalam pengaturan teknis negosiasi di mana delegasi Iran menolak sesi foto bersama Wakil Presiden AS JD Vance.

Tidak ada pembicaraan langsung karena kedua kelompok akan berada di ruangan terpisah dengan Pakistan sebagai perantara dalam format proximity talks.

Para mediator Pakistan akan bolak-balik menyampaikan pesan antara kedua delegasi yang berada di ruangan berbeda di Hotel Serena.

Keputusan Teheran untuk menolak jabat tangan dan foto bersama Vance mengirim pesan jelas bahwa mereka datang untuk negosiasi substantif, bukan pertunjukan diplomatik.

Fars Agency yang dekat dengan Garda Revolusi Islam (IRGC) merinci bahwa delegasi Iran akan bertemu dengan pihak Pakistan terlebih dahulu sebelum negosiasi dimulai.

Qalibaf mengajukan dua syarat utama yaitu gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang dibekukan sebelum negosiasi dimulai.

Dalam unggahan di media sosial X pada Jumat (10/4/2026), Qalibaf menulis bahwa kedua tindakan yang telah disepakati bersama belum dilaksanakan.

Mengenai aset beku, nilainya diperkirakan mencapai antara 100 hingga 120 miliar dolar AS yang tersimpan di bank-bank Korea Selatan, Jepang, China, India, Turki, dan Uni Emirat Arab.

Dana ini berasal dari penjualan minyak Iran yang ditahan akibat sanksi AS, dan pencairannya menjadi kebutuhan mendesak bagi ekonomi Iran.

Syarat pertama yaitu gencatan senjata di Lebanon menjadi yang paling kontroversial karena perbedaan interpretasi sejak gencatan senjata dua pekan diumumkan Trump pada 8 April 2026.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang menjadi mediator utama mengumumkan bahwa gencatan senjata berlaku termasuk di Lebanon, namun Netanyahu membantah dengan tegas.

Wakil Presiden AS JD Vance juga mengklarifikasi bahwa AS tidak pernah berjanji menghentikan serangan di Lebanon, yang membuat Iran merasa ditipu.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa serangan Israel ke Lebanon membuat negosiasi menjadi tidak berarti.

Sementara itu, Vance telah berangkat dari Washington menuju Islamabad setelah singgah di Paris untuk mengisi bahan bakar.

Sebelum berangkat, Vance memberikan peringatan keras bahwa jika Iran mencoba mempermainkan Amerika, mereka akan menemukan tim negosiasi yang tidak reseptif.

Presiden Trump dalam unggahan di Truth Social pada Jumat menulis bahwa Iran sepertinya tidak menyadari tidak memiliki kartu apa pun selain pemerasan jangka pendek.

Pakistan memainkan peran krusial sebagai mediator dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif memposisikan negaranya sebagai penengah kredibel.

Untuk memastikan kelancaran negosiasi, ibu kota Islamabad berada dalam kondisi lockdown dengan lebih dari 10.000 personel keamanan dikerahkan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik negosiasi dan menyerukan kepada kedua pihak memanfaatkan peluang diplomatik ini.

Namun gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Trump hanya menyisakan 12 hari lagi sebelum berakhir pada 22 April 2026.

Jika negosiasi di Islamabad gagal menghasilkan terobosan, perang skala penuh bisa kembali meletus di Timur Tengah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung