Berita, Nasional

Nonton Film Pesta Babi, Megawati Menangis Soroti Kerusakan Alam dan Hutan Sawit

Repelita.id

25 May 2026 15:15 WIB

Nonton Film Pesta Babi, Megawati Menangis Soroti Kerusakan Alam dan Hutan Sawit
Foto: Istimewa

Repelita Yogyakarta - Mantan Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri mengungkapkan perasaan sedihnya hingga meneteskan air mata selepas menyaksikan sebuah karya audio visual bertajuk Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Dokumenter tersebut dinilai secara gamblang memperlihatkan potret kelam kerusakan ekosistem alam serta penderitaan yang dialami oleh komunitas adat akibat masifnya eksploitasi komoditas bumi.

ADVERTISEMENT

Pernyataan emosional ini diutarakan oleh beliau tatkala memberikan sambutan dalam agenda diskusi kebijakan nasional mengenai kedaulatan laut berbasis ekonomi biru yang diselenggarakan di lingkungan Universitas Gadjah Mada.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional, tokoh politik perempuan tersebut melontarkan kritik terhadap arah pembangunan nasional yang dirasa terlalu berfokus pada pengerukan laba alam semata.

“Saya kemarin menangis saat menonton film Pesta Babi. Apa yang digambarkan di sana nyata. Berapa banyak hutan berubah menjadi sawit, padahal ada masyarakat dengan tradisi, hukum adat, dan wilayah yang mereka jaga,” ujar Megawati.

Beliau memberikan penekanan moral bahwa jalannya modernisasi industri sama sekali tidak boleh menyingkirkan eksistensi dari warga lokal yang sedari dulu merawat kelestarian lingkungan tempat tinggal mereka.

Aktivitas pembukaan lahan dan pengerukan material secara serampangan dinilai akan mewariskan kerusakan ekologis yang parah sekaligus menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup anak cucu di masa depan.

Di samping masalah agraria, putri Proklamator ini juga memberikan wejangan mengenai urgensi memperkokoh kedaulatan wilayah perairan nusantara strategis yang menjembatani Samudera Hindia serta Pasifik sebagai modal geopolitik utama.

Langkah pengamanan aset maritim tersebut ditegaskan tidak boleh sekadar berupa penguasaan fisik melainkan wajib didukung oleh penguasaan aspek sains, teknologi, serta riset mendalam.

Maka dari itu, pihak BRIN diinstruksikan untuk terus mempererat kemitraan strategis dengan dunia akademis kampus agar hasil-hasil temuan ilmiah dapat diaplikasikan menjadi regulasi konkret pemerintah.

Proteksi terhadap hak paten kekayaan intelektual atas keanekaragaman flora dan fauna Indonesia juga tidak luput dari perhatian beliau agar tidak mudah diklaim secara sepihak oleh entitas asing.

Mengakhiri pidatonya, tokoh bangsa ini mengetuk kesadaran kolektif elemen masyarakat untuk terus memupuk kemandirian dalam pengelolaan sektor agraria dan maritim demi konsep pembangunan yang ramah lingkungan.

“Bangsa besar adalah bangsa yang percaya pada kekuatan dirinya sendiri. Laut harus kembali menjadi jalur kemajuan peradaban Indonesia,” pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung