Repelita Jakarta - Mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Polisi Purnawirawan Oegroseno bersama pakar telematika Roy Suryo mengadakan dialog khusus mengenai keteladanan mantan Kapolri kelima Jenderal Polisi Purnawirawan Hugeng Iman Santoso.
Perbincangan mendalam yang membahas rekam jejak kepemimpinan tokoh bangsa tersebut disiarkan secara daring melalui tayangan di kanal YouTube Resory Official.
ADVERTISEMENT
Dalam tayangan tersebut Roy Suryo mengingatkan kembali memori publik mengenai hari kelahiran Jenderal Hugeng yang jatuh pada tanggal 14 Oktober 1921 silam.
Menurut Roy Suryo jika tokoh kepolisian yang wafat pada bulan Juli tahun 2004 itu masih hidup maka usianya saat ini sudah menginjak 105 tahun.
Dialog di kanal YouTube Resory Official ini juga menyoroti humor sindiran yang sangat melegenda di masyarakat mengenai keberadaan institusi kepolisian tanah air.
Roy Suryo menyebutkan anekdot lama bahwa di negara ini hanya ada tiga polisi yang dinilai baik yaitu patung polisi, polisi tidur, dan polisi Hugeng.
Menanggapi hal itu Oegroseno menyatakan bahwa istilah patung polisi dan polisi tidur sebenarnya hanyalah sebuah gurauan atau hiburan semata dari masyarakat.
Namun Jenderal Hugeng Iman Santoso yang memimpin Korps Bhayangkara sejak Mei 1968 hingga 1971 memang merupakan sosok nyata yang sangat fenomenal.
Oegroseno menceritakan pengalamannya saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP pada tahun 1971 yang sudah sering mendengar nama besar Kapolri kelima tersebut.
Figur Hugeng dinilai sangat membanggakan karena menampilkan gaya kepemimpinan yang benar-benar merakyat dan natural tanpa dibuat-buat demi pencitraan.
Setelah purnatugas dari kepolisian Hugeng memilih tetap tinggal di rumah dinas sederhana daerah Menteng yang sudah ditempatinya sejak awal bertugas.
Bahkan jenderal bintang empat itu tidak canggung bersepeda mengenakan sandal serta turun langsung menyapa para pengemudi becak di sekitar Monas Jakarta.
Nilai luhur kemanusiaan yang ditunjukkan oleh Hugeng tersebut diakui Oegroseno menjadi inspirasi besar ketika dirinya menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara.
Saat itu Oegroseno kerap mengajak para perwira untuk nongkrong berpakaian dinas dan berkomunikasi langsung dengan gerombolan anak muda di Lapangan Merdeka.
Selain Hugeng mantan Wakapolri ini juga mengagumi gaya kepemimpinan tatap muka atau face to face leadership yang diterapkan oleh mantan Kapolri Anton Sujarwo.
Anton Sujarwo dikenal sangat peduli kepada anak buah dengan mendatangi langsung anggota yang sedang sakit ketimbang langsung memarahi mereka.
Kisah ketegasan Hugeng dalam menolak berbagai fasilitas mewah dari pihak luar juga menjadi pembahasan hangat dalam dialog di kanal YouTube Resory Official.
Saat akan bertugas di Sumatera Utara Hugeng menolak keras rumah serta isi perabotan yang sengaja disediakan oleh kelompok pengusaha setempat.
Prinsip tersebut menular pada Oegroseno yang mengaku sempat didatangi pengusaha judi online 303 saat dirinya baru ditunjuk menjadi Kapolda Sumatera Utara.
Pengusaha itu berniat membelikan mobil mewah berupa Toyota Alphard demi menjaga nama baik Oegroseno namun tawaran tersebut ditolak mentah-mentah.
Oegroseno memilih setia menggunakan kendaraan dinas resmi karena menganggap pencopotan jabatan akibat mempertahankan prinsip jauh lebih ringan dibanding pencopotan nyawa.
Lebih lanjut Roy Suryo mengulas kasus besar penyelundupan mobil mewah Mercedes-Benz Barong oleh Robi Ketek yang berhasil dibongkar pada masa Hugeng.
Penanganan kasus hukum tersebut tetap berjalan tegak lurus meskipun Hugeng harus menghadapi risiko ketidaksukaan dari para elit penguasa di Menteng.
Kejujuran keluarga Hugeng juga dibuktikan saat dirinya melarang sang istri Bu Meri membuka usaha toko bunga demi menghindari adanya benturan kepentingan.
Bahkan putranya yang bernama Didit dilarang keras masuk menjadi anggota polisi agar tidak memanfaatkan nama besar orang tuanya dalam berkarier.
Ketegasan monumental lainnya dari Hugeng adalah saat mengusut tuntas kasus pemerkosaan brutal seorang penjual jamu bernama Sum Kuning di Yogyakarta.
Meskipun kasus viral ini diduga melibatkan anak pejabat penguasa Hugeng tetap strik mengungapkan kebenaran walau berujung pada pemberhentian dirinya oleh presiden.
Selepas pensiun Hugeng aktif menyalurkan hobi bermusik melalui kelompok Hawaiian Senior di TVRI serta berani bergabung mengkritisi pemerintah lewat Petisi 50.
Di akhir dialog Oegroseno berpesan agar lembaga pendidikan Polri terus menanamkan sertifikasi pelayanan masyarakat yang ramah humanis seperti meja bundar di polsek.
Aspek keteladanan dari kepolisian masa lalu diharapkan dapat menjadi refleksi penting bagi institusi bhayangkara saat ini.
Selain Hugeng nama Ajun Komisaris Besar Polisi Purnawirawan Sukitman yang berjasa menunjukkan lokasi sumur Lubang Buaya saat peristiwa G30S PKI juga disebut sebagai contoh polisi baik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok