Repelita Jakarta - Pandangan kontroversial yang dilontarkan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB sekaligus Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia Hardinsyah memicu polemik luas.
Pernyataan tersebut mendadak jadi sorotan publik lantaran dianggap menimpakan kesalahan kepada para pengajar dan pihak institusi pendidikan dalam kasus keracunan massal program makanan bergizi.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah diskusi terbuka, ia berpendapat bahwa pengawasan di lingkungan sekolah semestinya berjalan lebih ketat mengingat terdapat alokasi jatah makanan untuk tenaga pendidik.
“MBG itu kan ada porsi untuk guru. Guru cium dululah sebelum dicicip. Jangan dimakan, telepon SPPG, Pak ini aroma sudah tidak enak, ambil. Gitu kan,” kata Hardinsyah.
Ketika didesak mengenai etika menyalahkan pihak sekolah yang posisinya sekadar menerima distribusi, ia bersikukuh bahwa prosedur operasional standar telah diabaikan.
“Kala SOP begitu, itu kan kelalaian menggunakan SOP. Karena apa, tidak ada yang ngawasin, tidak ada yang ngingetin,” jelasnya.
Argumen tersebut langsung memancing reaksi keras dari Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru Iman Zanarul Haeri.
Melalui unggahan di akun media sosial X pribadinya pada hari Minggu tanggal 13 September 2026, ia melayangkan kritik tajam terhadap logika berpikir sang guru besar.
Pihaknya mengecam keras pernyataan yang seolah-olah menjadikan tenaga pendidik sebagai pihak paling bertanggung jawab atas insiden keracunan pangan tersebut.
“Menurut Hardinsyah, keracunan MBG disebabkan kelalaian di sekolah,” tulis Iman Zanarul Haeri dikutip Minggu (13/9).
“Karena guru tidak mencicipi MBG terlebih dahulu,” sebutnya.
Ketidakadilan beban kerja yang dipikul oleh para pengajar dalam menyukseskan program pemerintah ini dinilai sudah berada di luar batas kewajaran.
“MBG yang beracun, lantas yang disalahkan gurunya. Ini sudah sangat keterlaluan,” paparnya.
“Mana anggarannya diambil, haknya diambil, jam ngajarnya di ambil, suruh bagiin pula, nyicipin juga. Keracunan, guru disalahkan juga,” terangnya.
Geram dengan sudut pandang tersebut, ia secara terbuka melayangkan tantangan berdiskusi secara langsung guna menguji keabsahan argumen yang disampaikan.
“Kalau ada yang bisa mempertemukan saya dengan beliau, debat terbuka dan live. Saya bersedia,” jelasnya.
“Ayo, siapa yang bisa nemuin. Tantangan terbuka. Offline, saya mau liat mukanya langsung,” pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok