Berita, Timur Tengah

Pakar Nilai AS Tak akan Sanggup Hadapi Serangan Balik Iran karena Bantuan Krusial China-Rusia

Repelita.id

01 May 2026 21:12 WIB

Pakar Nilai AS Tak akan Sanggup Hadapi Serangan Balik Iran karena Bantuan Krusial China-Rusia
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pakar hubungan internasional Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menilai Amerika Serikat akan kesulitan menandingi Iran jika konflik yang saat ini terjadi meluas menjadi serangan terbuka skala besar.

Menurut pengamat yang kerap mengkaji dinamika Timur Tengah tersebut, Iran bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri dalam menghadapi tekanan dari Washington dan sekutunya.

ADVERTISEMENT

Yon menyebut bahwa Republik Islam Iran memiliki jejaring dukungan strategis yang solid dari dua negara adidaya yaitu China dan Rusia dalam berbagai sektor penting.

Dukungan dari Beijing dan Moskow tersebut dapat berupa suplai teknologi militer canggih, jalur logistik yang aman, hingga bantuan diplomatik di forum-forum internasional.

Selain itu, terdapat kesamaan kepentingan geopolitik antara ketiga negara dalam menghadapi dominasi dan hegemoni Barat yang terus berlangsung.

Yon menilai kondisi ini membuat setiap langkah militer yang akan diambil oleh Amerika Serikat tidak akan berjalan mudah tanpa konsekuensi yang berarti.

Ia memperingatkan bahwa setiap eskalasi yang dilakukan Washington berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas dan sulit dikendalikan di kawasan Timur Tengah.

Selain kekuatan dari aliansi eksternal, Iran dinilai memiliki kemampuan pertahanan domestik yang tangguh dan tidak bisa dianggap remeh oleh musuh-musuhnya.

Teheran juga memiliki jaringan proksi regional yang tersebar di berbagai negara seperti Lebanon, Suriah, Yaman, Irak, dan Palestina.

Iran telah terbukti mampu bertahan menghadapi sanksi ekonomi berkepanjangan dari Barat selama puluhan tahun tanpa menyerah pada tekanan.

Karena itu, jika terjadi serangan balasan besar-besaran dari Iran, Amerika Serikat disebut harus menghitung secara matang berbagai risikonya.

Risiko tersebut meliputi risiko politik di dalam negeri sendiri, risiko ekonomi global akibat kenaikan harga minyak, serta risiko keamanan dunia secara keseluruhan.

Yon menegaskan bahwa jalur diplomasi dan perundingan damai tetap menjadi opsi paling rasional bagi semua pihak untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang besar.

Tanpa adanya kesepakatan yang mengikat, eskalasi lebih lanjut hanya akan merugikan semua pihak dan berpotensi menyeret negara-negara besar ke dalam pusaran konflik yang lebih berbahaya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung