Berita, Timur Tengah

Pejabat Militer Israel: Jika Gencatan Senjata Runtuh, Fasilitas Energi Iran Jadi Sasaran Utama

Repelita.id

20 April 2026 21:34 WIB

Pejabat Militer Israel: Jika Gencatan Senjata Runtuh, Fasilitas Energi Iran Jadi Sasaran Utama
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Seorang pejabat militer Israel memberikan peringatan mengejutkan di tengah ketidakpastian gencatan senjata dengan Iran yang semakin memanas.

Jika kesepakatan damai yang rapuh itu runtuh, maka fasilitas energi Republik Islam akan menjadi sasaran utama serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

"Kami dan orang Amerika telah bersiap menghadapi kemungkinan bahwa gencatan senjata dengan Iran bisa runtuh secara tiba-tiba," ujar pejabat itu kepada surat kabar Maariv.

"Kami telah memperbarui bank target, dan Intelijen Militer sedang memantau apa yang terjadi di Iran."

Peringatan ini muncul saat gencatan senjata sementara dua minggu antara Republik Islam dan AS yang dimediasi Pakistan memasuki hari-hari terakhirnya.

Gencatan senjata tersebut dijadwalkan akan berakhir pada 22 April 2026, hanya dalam hitungan jam dari sekarang.

Tanpa adanya perpanjangan atau kesepakatan baru, konflik bersenjata skala penuh bisa meletus kapan saja di kawasan.

Pernyataan paling mengkhawatirkan dari pejabat militer Israel itu adalah penegasannya tentang target yang akan diserang jika pertempuran dilanjutkan kembali.

"Fasilitas energi Iran akan menjadi salah satu target kami jika pertempuran dilanjutkan kembali," tegas pejabat tersebut kepada Maariv.

Peringatan ini bukan sekadar retorika kosong karena sebelumnya pada awal Maret 2026, pesawat Israel telah menyerang fasilitas bahan bakar militer Iran di Teheran.

Video yang beredar luas di media sosial menunjukkan api besar dan kepulan asap hitam membumbung tinggi di langit malam ibu kota Iran.

IDF menyebut serangan itu sebagai pukulan signifikan terhadap infrastruktur militer Republik Islam.

Serangan tersebut menargetkan beberapa kompleks penyimpanan bahan bakar yang digunakan oleh pasukan militer IRGC di pusat kota.

Kali ini, peringatan yang disampaikan pejabat Israel kepada Maariv mengindikasikan bahwa target akan diperluas secara signifikan.

Bukan hanya fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur energi sipil yang menjadi tulang punggung ekonomi Teheran.

Pernyataan pejabat Israel bahwa "kami dan orang Amerika telah bersiap" menunjukkan tingginya tingkat koordinasi militer antara Tel Aviv dan Washington.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, AS dan Israel telah melancarkan kampanye udara dan laut bersama terhadap Iran.

Operasi yang disebut "Epic Fury" dari pihak AS dan "Roaring Lion" dari pihak Israel ini awalnya direncanakan berlangsung empat hingga lima minggu.

Sekitar 40.000 tentara AS telah ditempatkan di pangkalan-pangkalan strategis di Timur Tengah sebelum perang meletus.

Washington mengerahkan dua kelompok kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, beserta lebih dari belasan kapal perang lainnya.

Puluhan jet tempur canggih termasuk F-22, F-35, F-15, dan F-16 juga disiapkan untuk menghadapi Teheran.

Israel sendiri telah memobilisasi sekitar 100.000 tentara cadangan untuk memperkuat perbatasan utaranya.

Pernyataan bahwa bank target telah diperbarui mengindikasikan bahwa militer Israel tidak tinggal diam selama masa gencatan senjata.

Seorang sumber keamanan Israel sebelumnya mengindikasikan bahwa misi yang sedang berlangsung menargetkan seluruh rantai nilai ekonomi Teheran.

Dari bahan baku paling dasar hingga listrik dan bahan bakar, segala sesuatu yang mendukung pilar utama Republik Islam menjadi sasaran.

Sebelumnya pada awal April 2026, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa jika Teheran tidak menerima kesepakatan, militer AS akan menyerang infrastruktur listrik dan energi Iran.

Peringatan Hegseth ini kini selaras sepenuhnya dengan pernyataan pejabat militer Israel bahwa energi telah menjadi target bersama jika diplomasi gagal.

Institute for the Study of War (ISW) melaporkan bahwa serangan gabungan AS-Israel selama konflik telah merusak 40 persen kapasitas produksi baja Iran.

Selain itu, 75 persen kapasitas produksi petrokimia Republik Islam juga hancur akibat serangan udara yang terus-menerus.

Baja dan petrokimia adalah ekspor terpenting Teheran yang mendukung aktivitas ekonomi dan militernya selama ini.

Gencatan senjata dua minggu yang mulai berlaku pada 8 April 2026 memberikan jeda yang sangat dibutuhkan bagi kedua belah pihak.

Namun ISW memperingatkan bahwa Teheran memanfaatkan jeda ini untuk mereorganisasi dan membangun kembali kekuatan rudal balistiknya.

Teheran juga akan terus melakukan hal yang sama jika gencatan senjata diperpanjang atau jika kedua belah pihak menyetujui kesepakatan awal.

Inilah yang membuat Israel dan AS tetap waspada dan siaga penuh selama masa negosiasi.

Di satu sisi mereka ingin memberikan ruang bagi diplomasi untuk berjalan.

Di sisi lain mereka tidak bisa membiarkan Teheran memanfaatkan waktu untuk membangun kembali kemampuan militernya.

Sementara itu, Teheran tidak tinggal diam dan terus meningkatkan retorika perangnya.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Iran menang di medan perang dan AS gagal mencapai tujuan militernya.

Ghalibaf mengklaim bahwa Teheran telah membuat kemajuan besar dalam pertahanan udara antara perang 12 hari pada Juni 2025 dan konflik saat ini.

Ia juga mengklaim bahwa Presiden AS Donald Trump meminta gencatan senjata karena Iran menang di medan perang.

Pernyataan ini mencerminkan klaim Republik Islam bahwa mereka, bukan AS, yang memegang kendali atas situasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, juga memperingatkan bahwa blokade AS di Selat Hormuz dapat mematahkan gencatan senjata yang sedang berlangsung.

Ketegangan di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari telah memicu kekhawatiran global.

Prancis dan Inggris mengadakan pertemuan di Paris dengan melibatkan sekitar 40 negara untuk membahas pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Pemblokiran kapal tanker di selat telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar global yang dirasakan banyak negara.

Para pemimpin dunia menyambut gencatan senjata dengan optimisme yang hati-hati, namun tetap waspada terhadap potensi keruntuhan mendadak.

Pernyataan pejabat militer Israel bahwa Intelijen Militer sedang memantau apa yang terjadi di Iran bukanlah isapan jempol belaka.

Baru-baru ini, Israel mengungkap dugaan jaringan spionase yang beroperasi di dalam angkatan udaranya sendiri.

Beberapa tentara angkatan udara ditahan karena dicurigai melakukan spionase untuk Iran dalam jangka waktu yang lama.

Investigasi menunjukkan bahwa para tersangka telah terlibat dalam kegiatan intelijen yang terkoordinasi untuk Teheran.

Informasi sensitif diduga dipindahkan selama operasi militer berlangsung.

Kasus ini mencerminkan apa yang digambarkan para sumber sebagai upaya Iran yang jelas untuk menyusup ke lembaga keamanan Israel.

Sebelumnya pada 20 Maret, polisi Israel mengumumkan penangkapan seorang tentara cadangan yang bekerja di dalam sistem Iron Dome.

Tentara tersebut dicurigai memata-matai Iran untuk kepentingan asing.

Peringatan tentang serangan terhadap infrastruktur energi Iran sebenarnya bukanlah hal yang baru.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah memperingatkan bahwa Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan semuanya menjadi satu di Iran.

Pada awal April, Trump memberi tahu para pembantunya bahwa ia akan mengizinkan serangan yang lebih luas terhadap Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz.

Serangan tersebut akan mencakup pembangkit listrik, jembatan, dan fasilitas sipil lainnya.

Teheran merespons dengan nada eskalatif yang tidak kalah keras.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan serangkaian kontak internasional dengan mitranya di Qatar dan Jepang.

Ia menganggap ancaman AS terhadap fasilitas sipil dan energi sebagai "kejahatan perang" yang nyata.

Para pemimpin militer Iran menekankan bahwa setiap agresi AS atau Israel akan mendapat respons seperti gempa bumi.

Respons tersebut akan melampaui batas geografis Iran hingga mencakup fasilitas energi di seluruh wilayah.

Sumber-sumber di Teheran mengonfirmasi bahwa angkatan bersenjata Iran telah membangun bank target yang mencakup fasilitas vital di dalam wilayah pendudukan.

Mereka memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap kedaulatan Iran akan berarti pecahnya perang regional yang komprehensif.

Teheran mempertahankan sikap strategisnya di Selat Hormuz, menganggapnya sebagai pencegah kedaulatan yang tidak dapat dilepaskan.

Dengan gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir dalam hitungan hari, dunia kini menahan napas bersama.

Pertemuan kabinet Israel, koordinasi militer dengan AS, dan peringatan tentang serangan ke fasilitas energi menunjukkan bahwa opsi militer tetap menjadi pilihan yang sangat nyata.

Pertanyaan besarnya adalah apakah Iran akan mundur dan menerima tuntutan AS dan Israel.

Atau akankah mereka mempertahankan pendirian mereka tentang Selat Hormuz dan program nuklir.

Wakil Presiden AS JD Vance, setelah negosiasi di Islamabad, menggambarkan proposal AS sebagai tawaran final dan terbaik.

Sementara itu, Ghalibaf mengatakan bahwa Iran masih jauh dari diskusi akhir dan tidak mau terburu-buru.

Dengan kedua belah pihak saling bersikukuh pada pendirian mereka, prospek untuk mencapai kesepakatan permanen tampak sangat suram.

Dan seperti yang diperingatkan oleh pejabat militer Israel, jika gencatan senjata runtuh, fasilitas energi Iran akan menjadi sasaran pertama yang hancur.

Satu hal yang pasti, dunia kini berada di ambang pintu yang menentukan antara perdamaian abadi atau perang yang jauh lebih menghancurkan dari sebelumnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung