Repelita Teheran - Pemandangan langka terlihat di jalanan ibu kota Iran pada Rabu (8/4/2026) dini hari ketika ribuan warga berkumpul dalam gelapnya sebelum subuh.
Mereka tidak hanya datang untuk berduka melainkan juga untuk melawan dalam sebuah upacara pemakaman yang berubah menjadi panggung protes besar-besaran.
ADVERTISEMENT
Upacara pemakaman Mayor Jenderal Majid Khademi, Kepala Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), diwarnai teriakan "Hidup Palestina" dan "Matikan Amerika" yang menggema di antara barisan pelayat.
Api membakar bendera Amerika Serikat dan Israel di tengah jalan sebagai pesan tegas dari rakyat Iran kepada para pemimpinnya agar tidak percaya pada musuh.
Mayor Jenderal Majid Khademi bukanlah sosok biasa karena ia adalah kepala intelijen IRGC, salah satu posisi paling sensitif di Republik Islam.
Khademi tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Senin (6/4/2026) dini hari di mana militer Israel menggambarkannya sebagai komandan paling senior IRGC.
"Ini adalah pukulan telak lainnya bagi Korps Garda Revolusi," demikian pernyataan resmi Israel Defense Forces (IDF) setelah mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Sebelum Khademi, Israel juga telah membunuh pendahulunya Mohammad Kazemi pada Juni 2025 serta sejumlah petinggi keamanan Iran lainnya.
Bagi rakyat Republik Islam, gugurnya Khademi adalah luka baru yang masih segar ketika kabar gencatan senjata tiba.
Kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran diumumkan hanya beberapa jam sebelum pemakaman Khademi berlangsung.
Seorang wanita yang ikut dalam prosesi pemakaman meluapkan kekesalannya kepada jurnalis Reuters dengan nada getir.
"Amerika telah menunjukkan dirinya seratus kali hingga sekarang. Kita telah pergi ke meja perundingan dua kali ketika mereka menyerang kita," ujarnya.
Ia menuduh AS menggunakan gencatan senjata hanya untuk mengulur waktu bagi kepentingan Israel.
"Apakah sifat Amerika akan berubah? Saya tidak tahu mengapa mereka menerimanya seperti biasa, mereka ingin mengulur waktu untuk Israel," tambahnya.
Sentimen ini tampak dominan di antara para pelayat yang menganggap berdamai dengan AS di saat pemimpin intelijen mereka baru saja dibunuh adalah sebuah penghinaan.
Meskipun rakyat protes, pemerintah Republik Islam secara resmi menyambut gencatan senjata tersebut sebagai sebuah kemenangan besar.
Presiden Masoud Pezeshkian menyebut gencatan senjata ini sebagai hasil dari pengorbanan para martir termasuk para pemimpin yang gugur.
"Mulai hari ini, kita akan terus bersatu, baik di bidang diplomasi maupun pertahanan. Persatuan adalah kunci kemenangan," tulis Pezeshkian di media sosial.
Dewan Keamanan Nasional Iran bahkan mengklaim bahwa merekalah yang mendikte sepuluh syarat dalam perjanjian tersebut.
Di tengah hiruk-pikuk protes dan prosesi pemakaman, IRGC tetap menunjukkan kekuatannya dengan meluncurkan gelombang serangan ke-100.
IRGC mengklaim telah menyerang 25 target strategis musuh dalam gelombang serangan yang diberi nama True Promise-4.
Rincian serangan mencakup 13 kompleks energi dan pipa minyak yang terkait dengan AS dan Israel, serta 10 target militer lainnya.
Serangan ini bertujuan sebagai aksi balasan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Lebanon.
"Tindakan ini bertujuan untuk memperingatkan musuh: menyerang infrastruktur rakyat Iran akan dibayar mahal," demikian bunyi pernyataan resmi IRGC.
Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Sayyid Mojtaba Khamenei, menginstruksikan semua cabang militer untuk tetap dalam posisi siaga penuh.
"Ini bukan akhir dari perang. Seluruh cabang militer harus mengikuti perintah dan menghentikan tembakan, tetapi kewaspadaan tetap yang utama," tegas Khamenei.
Peringatan keras juga datang dari IRGC yang menyatakan bahwa jika AS atau Israel melakukan kesalahan sekecil apa pun, balasan akan diluncurkan dengan kekuatan penuh.
"Tangan kami tetap berada di atas pelatuk. Jika musuh melakukan kesalahan sedikit saja, mereka akan menghadapi kekuatan penuh kami," tulis pernyataan resmi IRGC.
Akar dari kemarahan publik ini bukan hanya karena kematian Khademi tetapi juga karena ketidakpercayaan terhadap niat AS dan Israel.
Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon yang menewaskan sedikitnya 254 orang.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup wilayah Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung mengirimkan ultimatum bahwa AS harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel.
Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz juga belum mereda karena Iran menutup selat tersebut sebagai respons atas serangan ke Lebanon.
Pemakaman Jenderal Khademi di Teheran telah membuka mata dunia tentang kondisi psikologis di balik gencatan senjata yang rapuh ini.
Di luar ruang-ruang perundingan yang dingin, rakyat Iran masih membara dan melihat gencatan senjata bukan sebagai jalan keluar melainkan sebagai jebakan.
Selama bom masih berjatuhan di Lebanon dan selama pemimpin mereka masih diburu, perdamaian hanyalah fatamorgana di tengah amarah yang terus membakar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok