Berita, Timur Tengah

Penasihat Militer Iran Sebut Kunjungan Donald Trump ke China Menandakan Melemahnya Hegemoni Amerika Serikat

Repelita.id

16 May 2026 19:58 WIB

Penasihat Militer Iran Sebut Kunjungan Donald Trump ke China Menandakan Melemahnya Hegemoni Amerika Serikat
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Konfrontasi politik antara pihak Washington dengan jajaran petinggi pemerintahan di wilayah barat daya Asia kini memasuki fase yang semakin krusial pasca bergulirnya agenda dialog diplomatik di Beijing.

Seorang penasihat militer senior dari otoritas tertinggi setempat melayangkan analisis tajam mengenai motif terselubung di balik kedatangan jajaran delegasi agung negeri paman sam ke negera tirai bambu tersebut.

ADVERTISEMENT

Pihak otoritas menilai lawatan tersebut mencerminkan keputusasaan serta kelemahan struktural yang dialami kabinet barat akibat rentetan hambatan operasional serta krisis pertahanan regional yang tak kunjung mereda.

“Amerika Serikat datang ke Beijing bukan dari posisi kekuatan, melainkan di bawah beban berat kegagalan dalam perang dengan Republik Islam, dan juga pergi dari sana; ketika mereka berusaha mencari pengaruh China untuk menahan krisis yang mereka ciptakan sendiri, ini menandakan sistem global baru yang dengan cepat menulis ulang aturan-aturannya, yang tidak lagi berpusat pada Amerika Serikat,” kata Mohsen Rezaei.

Sorotan tajam kini mengarah pada eskalasi pengamanan di jalur perairan sempit internasional yang menjadi urat nadi pergerakan kapal tangki komoditas energi dunia.

Langkah sepihak barat yang terus memperkuat pangkalan tempur laut serta menyiagakan baterai penangkis rudal di kawasan teluk dinilai justru memicu peningkatan kesiapan siaga tempur dari pasukan domestik.

Meskipun pemimpin tertinggi barat mengklaim sanggup mengamankan jalur navigasi logistik tanpa memerlukan intervensi pihak lain namun manuvernya di Beijing mengindikasikan hal yang sebaliknya.

Fenomena ini dipandang sebagai sinyalemen kuat mengenai pergeseran kutub kekuasaan dunia di mana pengaruh hegemoni tunggal mulai mendapat tantangan serius dari kemitraan strategis lintas benua.

Rangkaian sanksi ekonomi serta blokade finansial seolah tidak membendung laju kerja sama perdagangan komoditas minyak mentah yang terjalin erat antara wilayah teluk dengan kekuatan raksasa ekonomi baru Asia.

Di sisi lain dinamika perimbangan kekuatan global ini diproyeksikan bakal melahirkan integrasi politik baru yang melibatkan konsolidasi persenjataan taktis bersama aliansi pertahanan eropa timur.

Situasi saling curiga yang membayangi koridor diplomasi membuat risiko benturan fisik tetap terbuka lebar di tengah fluktuasi pasar energi internasional yang kian sensitif.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung