Berita, Nasional

Pengakuan Mahasiswa dan Sopir Ambulans Bawa Senjata Tajam Saat Demo BEM UI di Jakarta

Repelita.id

21 August 2026 21:10 WIB

Pengakuan Mahasiswa dan Sopir Ambulans Bawa Senjata Tajam Saat Demo BEM UI di Jakarta
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Dua orang yang terdiri dari mahasiswa berinisial AM serta pengemudi ambulans berinisial MR menyampaikan klarifikasi seusai kedapatan membawa senjata tajam dalam Unjuk rasa BEM UI di kawasan Dukuh Atas.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pihak kepolisian, benda tajam tersebut dipastikan tidak diniatkan untuk tindakan kejahatan sepanjang agenda demonstrasi.

ADVERTISEMENT

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan bahwa pisau milik AM tersimpan di tas akibat kegiatan Kuliah Kerja Nyata.

Sementara pengemudi ambulans MR membawa golok sebagai kelengkapan kerja yang diberikan oleh tempatnya bekerja.

"Untuk satu bilah pisau diyakini bahwa yang bersangkutan terbawa di dalam tas karena setelah pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Untuk sopir ambulans, ini memang dibekali dari perusahaan ambulans mulai dari Sukabumi ke Jakarta. Tetapi tidak digunakan untuk hal-hal lainnya," ungkapnya di Polda Metro Jaya, Rabu, 19 Agustus 2026.

Status hukum AM beserta MR dipastikan masih sebagai saksi dan kepolisian telah membolehkan keduanya kembali ke rumah.

"Ini juga terhadap dua orang, satu orang bagian dari aksi dan satu orang sopir ambulans, ini juga sudah dipulangkan. Status hukumnya masih sebagai saksi," jelas Budi.

Penyitaan barang bukti tersebut bermula sewaktu personel Satgas Gakkum menaruh kecurigaan pada gerak-gerik beberapa individu di area unjuk rasa.

"Dalam proses pelaksanaan aksi, ada temuan oleh Satgas Gakkum, ditemukan satu buah bilah pisau yang dibawa oleh oknum berinisial AM, ini masih didalami. Yang satu lagi satu buah golok yang dibawa oleh sopir ambulans," kata Budi dalam konferensi pers setelah demonstrasi, Selasa malam.

Pihak aparat menegaskan bahaya membawa sajam ke lokasi massa sehingga warga diimbau tidak mengulangi perbuatan serupa.

Jaminan keamanan bagi seluruh peserta unjuk rasa dan masyarakat sekitar menjadi prioritas utama petugas di lapangan.

"Kita sama-sama memahami, kita sama-sama memaklumi apabila ini digunakan akan berdampak berbahaya baik itu kepada petugas pengamanan ataupun terhadap massa aksi dan masyarakat yang ada di sekitar. Saat sekarang untuk orang-orang tersebut masih didalami apakah niat membawa ini untuk apa, ini masih kami dalami," tegasnya.

Terkait penyekatan massa di kawasan Bundaran HI, kepolisian beralasan area tersebut merupakan titik vital kegiatan ekonomi dan fasilitas publik.

"Apabila terjadi stagnasi arus lalu lintas di wilayah Bundaran HI, ini akan membuat kemacetan sampai Patung Kuda, Semanggi, dan Sudirman. Itu akan melumpuhkan Jakarta," jelas Budi.

Polda Metro Jaya menyediakan lokasi khusus penyampaian pendapat seperti kawasan DPR/MPR RI hingga Silang Monas Selatan.

Di sisi lain, Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra menyatakan pihaknya bakal mengagendakan aksi susulan setelah melakukan evaluasi.

"Kita akan aksi lagi tapi akan mengevaluasi dulu segala hal yang terjadi hari ini untuk menentukan aksi berikutnya akan seperti apa," katanya setelah demonstrasi digelar, Selasa malam.

Fathimah turut menyayangkan adanya barikade yang menghalangi mahasiswa bergerak menuju titik Bundaran HI.

"Pemerintah dipertanyakan karena mereka selama ini mengizinkan untuk berpendapat dan sebagainya. Tapi kenyataannya, kita mau ke Bundaran HI sebanyak dua kali tidak bisa. Artinya mereka sudah dua kali omongannya tidak sesuai kenyataan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa poin evaluasi program Makan Bergizi Gratis menjadi tuntutan paling mendesak untuk ditindaklanjuti pemerintah.

"Menurut kita yang utama banget ya program MBG. Mungkin bukan paling mudah diselesaikan ya, tapi menurut kita itu wajib karena menyangkut nyawa," ujarnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung