Berita, Nasional

Pengamat: Mentan Tak Bandingkan Sawit dengan Selat Hormuz, Indonesia Kuasai 60 Persen CPO Dunia Bukan Framing Menyesatkan

Repelita.id

01 April 2026 14:14 WIB

Pengamat: Mentan Tak Bandingkan Sawit dengan Selat Hormuz, Indonesia Kuasai 60 Persen CPO Dunia Bukan Framing Menyesatkan
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pengamat pertanian dari organisasi Aliansi Petani Bersatu, Deby Syahputra, menanggapi pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tentang potensi besar hilirisasi kelapa sawit dengan menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukanlah perbandingan dengan Selat Hormuz melainkan ilustrasi pengaruh besar Indonesia di pasar global.

“Maksud Mentan adalah menggambarkan posisi strategis Indonesia sebagai negara penghasil dan eksportir CPO terbesar dunia,” jelas Deby di Jakarta pada Rabu (1/4/2026).

ADVERTISEMENT

Deby menilai narasi yang menyebut adanya perbandingan dengan Selat Hormuz merupakan bentuk framing yang tidak tepat dan berpotensi menyesatkan publik.

“Indonesia saat ini menguasai lebih dari 60 persen pasar ekspor CPO dunia. Dengan dominasi sebesar itu, Indonesia memiliki kemampuan untuk memengaruhi stabilitas pasokan dan harga di pasar internasional,” tuturnya.

Deby menerangkan bahwa dalam skenario ekstrem, penghentian ekspor CPO Indonesia akan berdampak signifikan terhadap industri di berbagai negara termasuk Jepang, Amerika Serikat, hingga kawasan Eropa.

Ia menilai kekuatan ini perlu dimanfaatkan secara strategis oleh pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global melalui kebijakan hilirisasi agar CPO tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa dominasi Indonesia atas komoditas kelapa sawit merupakan aset strategis nasional yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi, mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam, dan meningkatkan kemandirian bangsa.

“Kelapa kita kuasai dunia, nomor satu dunia. Masalahnya adalah kelapa dikirim bulat-bulat. Kalau ini diolah menjadi virgin coconut oil, coconut milk, coconut water, nilainya bisa puluhan sampai ratusan kali lipat. Air kelapa saja sekarang dijual mahal di luar negeri hanya karena packaging, padahal bahan bakunya dari Indonesia,” kata Mentan.

“Kalau CPO kita olah semua menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60 persen pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan,” lanjut Mentan Amran.

Meskipun demikian, ia menyampaikan bahwa perjuangan menuju swasembada dan hilirisasi tidak selalu mudah karena ada pihak-pihak yang tidak senang ketika Indonesia berhenti impor dan mulai mandiri.

Namun demikian, ia memastikan pemerintah akan terus melanjutkan program hilirisasi, swasembada pangan, dan kemandirian energi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Tidak semua orang senang kalau kita swasembada. Tapi kita akan lanjutkan perjuangan ini. Kita akan jadikan Indonesia besar melalui pangan, energi, dan hilirisasi. Di situlah masa depan ekonomi Indonesia,” tegasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung