Repelita [Jakarta] - Agenda kunjungan mantan Presiden Joko Widodo ke berbagai daerah di Indonesia belakangan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mempertahankan pengaruh politik daripada sekadar kunjungan silaturahmi biasa.
Sejumlah pihak mencurigai manuver tersebut merupakan upaya antisipasi guna menjaga eksistensi politik pribadi sekaligus melindungi masa depan dinasti keluarganya menjelang kontestasi Pemilu 2029 mendatang.
ADVERTISEMENT
Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai bahwa respons skeptis masyarakat terhadap aktivitas ini sangat wajar mengingat posisi Jokowi sebagai mantan orang nomor satu di Tanah Air.
Ia beranggapan bahwa mantan Presiden ke-7 RI tersebut kini tengah berupaya keras mengamankan panggung politik agar tetap relevan meski sudah tidak lagi menjabat secara resmi.
"Bahasa diundang oleh rakyat itu istilah yang ditengarai tak bisa bernilai benar. Jokowi merencanakan keliling Indonesia adalah langkah kebutuhan," ujar Efriza saat dihubungi pada Minggu, 24 Mei 2026.
Menurut analisisnya, terdapat kecemasan mendalam di kalangan pendukung, lingkaran keluarga, hingga partai yang terafiliasi dengan Jokowi terkait potensi memudarnya pamor mereka jika tidak ada pergerakan politik yang intensif.
Kekhawatiran tersebut disinyalir dipicu oleh performa Gibran Rakabuming Raka yang dianggap kurang menonjol di kancah nasional, sehingga keberlangsungan trah politiknya di eksekutif dirasa terancam.
"Bisa dimaknai Gibran tak lagi bernilai tanpa sepak terjang Jokowi. Apalagi, banyak kasus hukum berpotensi merebak dan menyerupai nama Jokowi maupun orang-orang terdekatnya," tutur Efriza.
Selain menyoroti posisi putra sulung Jokowi, Efriza juga menilai bahwa performa menantu Presiden, Bobby Nasution, selaku Gubernur Sumatera Utara, belum mampu menunjukkan dampak politik yang signifikan.
Jika Jokowi memilih untuk tetap berada di Solo tanpa melakukan manuver berarti, masa depan kekuatan politik yang telah dibangunnya berisiko melemah, termasuk nasib Partai Solidaritas Indonesia yang dipimpin Kaesang Pangarep.
"Karier politik dari keluarga Jokowi lainnya akan mandek seperti Bobby Nasution, dan karier politik para pendukungnya lambat laun menyusut drastis. Bahkan, PSI elektabilitasnya akan sulit terdongkrak," tutup Efriza.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok