Repelita Jakarta - Penunjukkan Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri baru memicu diskursus publik terkait arah kebijakan diplomasi Indonesia ke depan.
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan hangat adalah intensitas kunjungan luar negeri yang kerap dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto.
ADVERTISEMENT
Menanggapi dinamika tersebut, Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Ade Marup memberikan pandangan objektifnya.
Ia menilai bahwa pergantian posisi strategis di kursi Kementerian Luar Negeri belum tentu mengubah pola perjalanan luar negeri sang kepala negara.
Sistem pemerintahan Indonesia yang menganut corak presidensial murni menempatkan kewenangan penuh atas agenda perjalanan tetap di tangan presiden.
Meskipun demikian, Arrmanatha Nasir dinilai tetap memiliki kapasitas besar untuk memberikan perspektif alternatif bagi presiden dalam menyusun agenda diplomasi. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok