Berita, Nasional

Pengganti Purbaya Ternyata Dosennya saat Kuliah, Kritik Pedas Tere Liye: Jangan Lebay Memuji Pejabat, Rakyat Menggaji Mereka untuk Bekerja

Repelita.id

16 September 2026 21:02 WIB

Pengganti Purbaya Ternyata Dosennya saat Kuliah, Kritik Pedas Tere Liye: Jangan Lebay Memuji Pejabat, Rakyat Menggaji Mereka untuk Bekerja
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Penulis ternama Tanah Air, Tere Liye, kembali melontarkan kritikan tajam terhadap kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang dinilainya terlalu berlebihan dalam memuji pejabat publik yang baru dilantik maupun yang sedang memegang kekuasaan.

Menurutnya, mengawasi serta memberikan koreksi terhadap kinerja para penyelenggara negara merupakan hak sekaligus kewajiban mutlak bagi rakyat, alih-alih menghabiskan waktu hanya untuk melakukan sanjungan yang tidak perlu.

ADVERTISEMENT

Pandangan tersebut disampaikannya melalui sebuah unggahan pada media sosial resmi miliknya, di mana ia menegaskan keengganannya untuk menghabiskan waktu memuji figur pejabat manapun tanpa terkecuali.

Bahkan, sikap kritis tersebut tetap ia pegang teguh meskipun sosok pejabat yang dimaksud merupakan mantan dosennya sendiri atau orang yang pernah ia kenal secara personal semasa kuliah.

Sikap tegas itu diuturkannya seiring dengan dinamika pergantian kursi Menteri Keuangan dari Purbaya kepada Suahasil Nazara, yang notabene merupakan salah satu bekas pengajarnya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Tere Liye lantas mengenang kembali masa-masa ketika dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa, di mana beberapa tokoh penting yang menjabat sebagai menteri saat ini merupakan pengajarnya di ruang kelas.

Kendati memiliki ikatan akademis di masa lampau, hubungan tersebut sama sekali tidak membuat sang novelis merasa sungkan untuk bersikap kritis atau berubah menjadi pemuja kekuasaan saat ini.

Kalau mau terus terang, saya lah orang pertama yang akan memuji-muji Menkeu baru ini. Kenapa? Lah, saya ini mahasiswanya dulu. Tapi sorry banget, saya tidak akan menghabiskan waktu memuji pejabat mana pun, tegas Tere Liye pada Rabu, 16 September 2026.

Ia kemudian turut menyinggung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang juga pernah mendidiknya di bangku kuliah, di mana ia rajin mencatat pelajaran ekonomi langsung dari sang tokoh.

Namun, selama masa jabatan Sri Mulyani sebagai menteri, ia mengaku tetap memilih untuk bersikap biasa saja tanpa pernah melontarkan pujian setinggi langit kepada sang pejabat negara.

Terlebih ketika pemerintah menerbitkan kebijakan pajak yang meringankan para penulis lewat skema Normal Penghitungan Penghasilan Neto, ia tetap menanggapinya secara wajar tanpa sanjungan berlebihan.

Ngapain saya harus memujinya? Itu tuh kewajibannya! Saya cukup bilang terima kasih, selesai. Buat apa sih kita lebay sekali belain, memuji-muji, sok yakin sekali orang-orang ini bakal jadi pejabat terbaik?, lanjutnya.

Melalui ulasan tersebut, penulis belasan karya bestseller ini mengingatkan kembali masyarakat mengenai esensi utama dari kehadiran para pejabat publik di dalam struktur pemerintahan negara.

Para pemangku jabatan tersebut, kata dia, digaji menggunakan uang rakyat yang bersumber dari pungutan pajak sehingga sudah sewajarnya mereka bekerja secara maksimal untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Sikap mengagungkan penguasa secara berlebihan dinilai sangat kontras dengan realitas berat yang sedang dihadapi oleh masyarakat luas di tengah berbagai krisis multidimensional saat ini.

Di saat rakyat dihadapkan pada rentetan masalah besar seperti bencana kebakaran hutan, kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis, ekonomi yang stagnan, hingga pelemahan nilai tukar rupiah, publik seharusnya menuntut kerja nyata.

Orang-orang ini kan kita gaji, memang buat kerja bagus. Apalagi saat situasi begini, kebakaran hutan di mana-mana, keracunan MBG di mana-mana, ekonomi stuck, kurs rupiah melemah, dan semua masalah, tegas Tere Liye.

Selain menyoroti mentalitas pemujaan, ia juga menumpahkan keprihatinannya terhadap ironi sosial di mana kalangan masyarakat bawah kerap membela para penguasa mati-matian layaknya kerabat dekat.

Fenomena tersebut menggambarkan adanya ketimpangan cara berpikir yang cukup menyedihkan di mana kelompok rentan justru mengagungkan pihak yang tengah memegang tampuk kekuasaan tertinggi.

Sedih loh lihatnya. Yang miskin mengasihani yang kaya raya. Yang lemah mendukung habis-habisan yang sedang berkuasa. Yang berada di dasar piramida kehidupan, malah menjilati yang menginjak kepalanya duduk di puncak piramida. Pikirkanlah, tambahnya.

Melalui catatan reflektif tersebut, pengamat sekaligus akuntan ini mengajak seluruh elemen masyarakat agar lebih rasional, berani bersuara kritis, serta tidak mudah terbuai dalam mengawal jalannya roda pemerintahan demokratis.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung