Repelita Jakarta - Cerita dramatis mengenai evakuasi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, di tengah gempuran militer Amerika Serikat dan Israel akhirnya terkuak ke publik.
Berdasarkan laporan Al-Arabiya, nyawa Mojtaba sempat berada dalam kondisi yang sangat terancam akibat rentetan pengeboman udara yang terjadi beruntun.
ADVERTISEMENT
Anggota Dewan Pakar Iran, Sheikh Mohsen al-Haidari, mengungkapkan bahwa Mojtaba awalnya dilarikan ke sebuah rumah sakit di Teheran setelah lolos dari serangan udara pertama.
Serangan awal yang diluncurkan oleh pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel tersebut sebenarnya menargetkan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei.
Namun, situasi darurat kembali terjadi lantaran fasilitas medis tempat Mojtaba menjalani perawatan intensif justru turut menjadi sasaran bom.
Sheikh Mohsen al-Haidari membeberkan bahwa Mojtaba berada di fasilitas medis ketiga yang hancur akibat terjangan bom.
"Mojtaba berada di fasilitas medis ketiga yang menjadi korban pengeboman," tutur Sheikh Mohsen al-Haidari dalam pernyataannya.
Meskipun gedung tempatnya dirawat telah hancur lebur, pemimpin tertinggi tersebut dilaporkan selamat secara ajaib dari reruntuhan bangunan.
Setelah proses penyelamatan yang menegangkan dari puing-puing bangunan tersebut, keberadaan Mojtaba Khamenei masih diselimuti misteri.
Hingga saat ini, sosoknya belum pernah menampakkan diri lagi di hadapan khalayak umum.
Padahal, ia telah resmi ditunjuk menjadi suksesor sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan udara pada Februari 2026.
Sheikh Mohsen al-Haidari menggambarkan bahwa situasi suksesi di bawah ancaman militer asing ini menjadi salah satu periode paling krusial bagi sejarah Iran.
Berdasarkan hukum konstitusi negara Iran, apabila seorang pemimpin tertinggi wafat, kendali negara akan diambil alih sementara oleh dewan khusus beranggotakan tiga orang.
Kehilangan sosok pemimpin utama memaksa Dewan Pakar untuk segera bergerak cepat mencari pengganti di tengah situasi perang.
Ketika proses pencalonan berlangsung, Mojtaba yang sedang mengalami luka parah sama sekali tidak mengetahui bahwa namanya masuk dalam bursa kandidat.
Hal tersebut dikonfirmasi oleh Sheikh Mohsen al-Haidari yang menyebut Mojtaba baru mengetahui penunjukannya setelah pengumuman resmi disiarkan kepada publik.
Proses pemungutan suara oleh Dewan Pakar Iran sendiri berjalan penuh dengan risiko kematian yang sangat tinggi.
Bahaya nyata sempat menghantam internal dewan ketika kantor sekretariat mereka menjadi sasaran bom mematikan dari pasukan Amerika Serikat dan Israel.
Insiden pengeboman kantor sekretariat itu menewaskan sejumlah orang serta menghanguskan seluruh dokumen penting terkait pemilihan pemimpin.
Kondisi chaotic tersebut sempat membuat beberapa pejabat tinggi mendesak agar sidang pemilihan ditunda sampai konfrontasi bersenjata selesai.
Kendati demikian, Dewan Pakar Iran tetap bersikeras melanjutkan agenda pemilihan rahasia tersebut melalui dua tahapan utama.
Pada tahapan awal, para anggota menuliskan pilihan mereka di atas kertas sebelum dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat rahasia.
Lokasi serta tujuan ruangan tersebut sengaja dirahasiakan rapat-rapat demi menjaga keselamatan para anggota dewan yang hadir.
Selanjutnya pada fase kedua, proses pengumpulan suara sempat terhambat akibat eskalasi serangan udara yang semakin intensif di wilayah sekitar.
Akibat situasi yang tidak kondusif, lokasi diskusi mengenai suksesi kepemimpinan terpaksa berpindah-pindah tempat selama kurang lebih satu pekan.
Hingga akhirnya, pemungutan suara final berhasil digelar pada malam tanggal 19 Ramadan, seminggu setelah wafatnya Ali Khamenei.
Di tengah kepungan tekanan militer dan geopolitik dunia, Sheikh Mohsen al-Haidari mengaku menjadi orang pertama yang mengajukan nama Mojtaba Khamenei.
Langkah politik ini diambil sebagai bentuk perlawanan frontal terhadap gertakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sebelumnya, Donald Trump secara terbuka telah mengeluarkan larangan bagi Iran untuk memilih putra dari mendiang Ali Khamenei tersebut.
Sesuai regulasi hukum dan ketetapan agama di Iran, Dewan Pakar sebenarnya wajib melakukan proses konsultasi terlebih dahulu dengan calon terpilih.
Akan tetapi, hukum setempat juga menegaskan bahwa siapapun tokoh yang sudah ditunjuk oleh dewan wajib menerima amanat kepemimpinan tersebut.
Melalui pemungutan suara yang digelar tertutup, Mojtaba Khamenei akhirnya resmi menang mutlak setelah meraup 50 suara dari total 59 anggota dewan yang hadir.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok