Repelita [Jakarta] - Sorotan publik kembali tertuju pada persoalan deforestasi serta pengalihan fungsi kawasan hutan secara masif di wilayah Indonesia.
Bencana banjir yang menerjang Aceh bersama Sumatera Utara dan Sumatera Barat dinilai para pakar ekologi bukan sekadar dampak iklim ekstrem melainkan dipicu pembabatan hutan.
ADVERTISEMENT
"Apa itu katanya membahayakan, deforestation. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan?"
Peneliti Wong Ee Lynn membeberkan bahwa perkebunan sawit tidak dapat disamakan dengan hutan rimba karena berstatus tanaman monokultur.
Lahan monokultur dinilai tidak memiliki keseimbangan alami sehingga memicu ketergantungan pada obat-obatan kimia.
"Sebaliknya, perkebunan monokultur harus menggunakan herbisida, insektisida, bakterisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar untuk meniru beberapa cara alam melindungi tanaman," tulis Lynn
Ia menegaskan ekspansi alih fungsi lahan berisiko memicu pengerukan serta degradasi unsur hara tanah secara permanen.
"Perkebunan merupakan ancaman langsung bagi hutan," tegas Lynn.
Hilangnya tutupan vegetasi alami berpotensi besar memicu erosi hebat saat diterjang air hujan.
"Di perkebunan monokultur, tanaman penutup tanah dihilangkan, sehingga tidak ada lagi perlindungan alami terhadap erosi tanah," jelas Lynn.
Kondisi tersebut dalam jangka panjang mematikan fungsi kesuburan tanah untuk kebutuhan budidaya.
"Tanah yang terdegradasi menjadi tidak dapat digunakan untuk pertanian setelah beberapa tahun."
Hutan alam memiliki keunggulan vegetasi yang mampu menyerap serta menyaring air secara mandiri.
"Sebaliknya, hutan berfungsi sebagai daerah aliran sungai dan meningkatkan kualitas air dengan meminimalkan erosi dan menyaring polusi."
Sementara itu pakar ekologi Fiona McAlpine menerangkan bahwa industri perkebunan sawit tidak memiliki kekayaan hayati serupa kawasan hutan asli.
"Monokultur industri ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keanekaragaman hayati yang kaya dan harmoni ekologis hutan asli."
McAlpine menyerukan aksi perlindungan sisa-sisa ekosistem hutan sebelum dampak kerusakan lingkungan menjadi tak terobati.
"Perbedaannya jelas, dan kita harus bertindak untuk melindungi apa yang tersisa dari ekosistem yang tak tergantikan ini sebelum terlambat," tutup McAlpine.
Kerusakan lingkungan di ekosistem Batang Toru turut disinyalir menjadi pemicu utama bencana banjir di wilayah Sumatera.
Deforestasi kawasan tersebut melonjak drastis akibat alih fungsi lahan oleh korporasi skala besar.
"Memang ada beberapa dari masyarakat yang melakukan penebangan. Cuma itu bukan penyumbang terbesar," kata dia. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok