Berita, Nasional

Pertemuan Prabowo dan Megawati Dinilai Jadi Kiamat Politik Gibran Serta Horor Bagi PSI

Repelita.id

30 September 2026 00:30 WIB

Pertemuan Prabowo dan Megawati Dinilai Jadi Kiamat Politik Gibran Serta Horor Bagi PSI
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dinamika panggung politik nasional kembali memancing perhatian serius dari pengamat politik terkemuka yakni Heru Subagia.

Pengamat tersebut menyoroti serangkaian peristiwa penting mulai dari safari politik Jokowi di Jawa Barat hingga rencana pertemuan elite.

ADVERTISEMENT

Hal itu disampaikannya ketika mengulas konstelasi politik tanah air yang bergerak dinamis menjelang kontestasi Pemilu 2029 mendatang.

Menurutnya, berbagai manuver politik belakangan ini mengindikasikan adanya pergeseran peta kekuatan yang cukup signifikan di tingkat nasional.

Sorotan utama diarahkan pada agenda politik Jokowi di Jawa Barat yang dinilai lebih berfokus pada penguatan basis internal.

Ia lantas menyinggung momen ketika Jokowi memperlihatkan kartu tanda anggota partai politik tertentu kepada publik luas.

Deretan-deretan kejadian politik kekinian bagaimana Jokowi menggebrak Jabar dengan agenda-agenda politik yang lebih fokus pada agenda internal, ujar Heru pada Selasa (29/9/2026).

Kemunculan mantan kepala negara tersebut sebagai kader partai tentu saja langsung menarik atensi para pimpinan partai lain.

Yang cukup menjadikan sorotan publik dan bahkan atensi ketua-ketua partai berkaitan erat bagaimana Jokowi menunjukkan KTA atau Kartu Tanda Anggota sebagai bagian dari PSI, tukasnya.

Pernyataan Jokowi yang menyebut partai barunya sudah ditakuti pihak lain juga dinilai sebagai bentuk uji nyali tersendiri.

Kemudian pernyataan Jokowi ketika dia mengatakan bahwa PSI sebagai partai baru sudah ditakuti oleh partai-partai yang lainnya, ucap dia.

Pernyataan tersebut dianggap memicu perdebatan sengit mengenai kesiapan menghadapi aturan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold.

Ini menjadi pernyataan yang cukup provokatif dan uji nyali buat PSI dan Jokowi itu sendiri berkaitan bagaimana kesiapan Jokowi dan PSI tentang parliamentary threshold yang diyakini PSI akan lolos dan tidak mempermasalahkan angka 5, 6, 7 persen yang saat ini sedang diperdebatkan, imbuhnya.

Lebih lanjut, pengamat politik ini menilai seluruh rangkaian peristiwa tersebut tidak berdiri sendiri melainkan saling berkaitan erat.

Ia menghubungkannya dengan komunikasi intensif yang dilakukan oleh sejumlah tokoh nasional seperti Puan Maharani dan Sufmi Dasco Ahmad.

Hal yang menarik tentunya landscape politik ini terus berkembang dan inilah puncak dari apa yang saya kaitkan dengan kegiatan-kegiatan politik Jokowi di Bandung dengan maneuver politik yang dilakukan Puan, Prabowo, Dasco, dan Megawati dan sejumlah petinggi-petinggi yang menyertainya dalam kunjungan Prabowo ke Teuku Umar kemarin, terangnya.

Rencana pertemuan lanjutan antara Presiden Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri diprediksi menjadi titik balik krusial.

Sebenarnya ada yang menurut saya menakutkan dan menjadi gong perlawanan yang sangat dahsyat ketika Dasco dan Puan akan segera menjadwalkan pertemuan kembali antara Megawati dan tentunya juga Prabowo dalam sebuah acara dan ini akan dilakukan secepatnya, tegasnya.

Pertemuan tersebut diyakini bakal memperlihatkan kembali soliditas kekuatan antara dua partai besar di kancah nasional.

Ada beberapa bagian atau porsi penting bagi saya dengan adanya pertemuan kedua kalinya Prabowo dan Megawati, Heru menuturkan.

Ini sesungguhnya adalah perlawanan dan sekaligus tamparan sangat keras bagaimana kubu Prabowo dan Megawati kembali solid, kembali bertemu lagi, dan menunjukkan eksistensinya untuk melakukan sebuah resistensi politik dan sekaligus revitalisasi politik antara kekuatan partai dan tokoh politik nasional tersebut, tambahnya.

Bahkan, ia tidak segan menggunakan istilah yang cukup keras untuk menggambarkan dampak dari pertemuan kedua tokoh besar tersebut.

Kemudian saya katakan bahwa ketika pertemuan kedua kalinya Prabowo dan Megawati itu betul-betul terjadi, sebenarnya ini sebenarnya sebuah 'kiamat' politik, terutama koalisi antara Prabowo-Gibran. Dan saya katakan akan usai pasca pertemuan kedua pemimpin partai Gerindra dan PDIP ini, timpalnya.

Kelangsungan koalisi yang selama ini terbangun dipertanyakan di tengah potensi semakin dekatnya hubungan antara Gerindra dan PDI Perjuangan.

Kemudian, bagaimana nasib koalisi-koalisi yang dibangun, terutama Gibran dan Prabowo, dan hubungannya dengan deal politik antara Megawati dan Prabowo?, imbuhnya.

Seluruh dinamika ini ditegaskan bermuara pada strategi besar menghadapi kontestasi pemilihan presiden serta pemilihan legislatif mendatang.

Tentunya ini adalah permainan-permainan, taktik-taktik politik yang sebenarnya menjadi bagian landscape politik besar sekali menghadapi apa yang kita katakan kontestasi Pilpres 2029 dan Pileg 2029 itu sendiri, jelasnya.

Posisi Jokowi yang kini sudah tidak memegang jabatan resmi pemerintahan turut diperhitungkan dalam kalkulasi politik jangka panjang.

Perlu diketahui saat ini yang cukup menarik bahwa Presiden Jokowi sudah tidak lagi mempunyai akses kekuasaan secara langsung, kata dia.

Agenda penyematan jabatan sebagai ketua dewan pembina partai dalam waktu dekat diprediksi bakal memengaruhi eskalasi persaingan.

Bukan lagi Presiden dan tentunya jabatannya sebagai Ketua Dewan Pembina PSI yang nantinya akan digadang-gadang disematkan di bulan November oleh PSI itu sendiri dalam sebuah acara ulang tahun PSI, bebernya.

Langkah politik tersebut diyakini sudah diantisipasi secara matang oleh poros kekuatan politik lain di tanah air.

Tetapi tentunya apa yang dilakukan Jokowi untuk disematkan sebagai Ketua Dewan Pembina PSI ini tentunya sudah diwanti-wanti, sudah dianulir, dan tentunya sudah diprediksi oleh kekuatan-kekuatan politik lainnya, termasuk bagaimana saat ini komunikasi politik Prabowo dan Megawati itu terbentuk, jelas dia.

Pada akhirnya, segala bentuk identitas dan optimisme partai pendukung pemerintah berisiko menghadapi hambatan yang cukup berat.

Kemudian saya menyimpulkan bahwa kekuatan politik Jokowi, identitas politik Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina PSI, dan optimisme PSI untuk lewat ambang batas parliamentary threshold, kemungkinan besar justru akan menjadi bumerang, akan menjadi sebuah hambatan keras, terangnya.

Pertemuan puncak antara pimpinan partai besar tetap diposisikan sebagai penentu utama masa depan konstelasi kekuasaan saat ini.

Karena dengan klimaks pertemuan Prabowo dan Megawati yang nantinya akan terjadi atau mungkin tidak terjadi, menjadi sebuah momentum politik paling dahsyat, paling relevan hubungannya dan eskalasinya politik nasional bahwa sesungguhnya koalisi Prabowo dan tentunya Gibran sudah berakhir, imbuhnya.

Konsekuensi lanjutan dari pertemuan tersebut diyakini membawa dampak besar bagi peta kekuatan politik nasional ke depan.

Inilah yang saya katakan bahwa pertemuan Megawati-Prabowo yang akan direncanakan segera dilakukan, jika memang betul terjadi, menjadi bagian 'kiamat' politik Gibran dan juga sebuah horor politik bagi PSI, Jokowi, dan langkah-langkah politik berikutnya, kuncinya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung