Berita, Peristiwa

Pesan “Mamah di Mana?” Jadi Jejak Terakhir Guru Korban Tabrakan KRL di Bekasi Timur

Repelita.id

28 April 2026 19:48 WIB

Pesan “Mamah di Mana?” Jadi Jejak Terakhir Guru Korban Tabrakan KRL di Bekasi Timur
Foto: Istimewa

Repelita Cikarang Timur - Duka mendalam menyelimuti keluarga Nurlaela, seorang guru SDN Pulogebang II yang berusia 39 tahun, yang menjadi salah satu korban meninggal dalam kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur.

Sebuah pesan singkat sederhana dari putri semata wayangnya yang berbunyi "Mamah di mana?" kini menjadi kenangan terakhir yang paling menyayat hati bagi keluarga yang ditinggalkan.

ADVERTISEMENT

Pesan WhatsApp tersebut tercatat sebagai komunikasi terakhir antara seorang anak tunggal dengan ibunda tercinta sebelum tragedi nahas merenggut nyawa sang guru.

Nurlaela tewas dalam insiden tabrakan mengerikan antara rangkaian KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek yang terjadi di sekitar Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026.

Di hadapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang datang melayat ke rumah duka di kawasan Cikarang Timur, sang anak menceritakan dengan suara lirih momen terakhir komunikasinya dengan sang ibu.

Pesan singkat itu dikirim pada pukul 17.30 WIB, beberapa jam sebelum kecelakaan maut yang merenggut puluhan jiwa tersebut terjadi.

“Iya, saya tanya ‘Mamah di mana’, dijawab masih di sekolah, pulang malam,” ujar putri semata wayang itu dengan nada getir.

Saat itu sang anak tidak memiliki firasat buruk apapun terhadap pesan singkat yang dikirimkan oleh ibunya.

Ia memilih untuk tidak membalas pesan tersebut karena sudah terbiasa dengan aktivitas ibunya yang sering pulang larut malam ketika ada kegiatan sekolah.

Namun malam hari itu terasa sangat berbeda karena hingga larut malam Nurlaela tidak kunjung tiba di rumah.

"Biasanya kalau ada kegiatan jam 9 atau 10 itu sudah pulang. Ini belum pulang-pulang juga," lirih suami korban saat menceritakan detik-detik kecemasan keluarga kepada Gubernur Dedi Mulyadi pada Selasa, 28 April 2026.

Kegelisahan yang menyelimuti keluarga akhirnya berubah menjadi kenyataan pahit yang tidak dapat dielakkan.

Ponsel milik Nurlaela berhasil ditemukan oleh petugas berwenang di lokasi kejadian tabrakan mematikan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek.

Di rumah duka yang dipenuhi suasana haru, keluarga dan kerabat tidak mampu menahan tangis saat mengenang sosok almarhumah sebagai seorang guru yang sangat berdedikasi pada profesinya.

Nurlaela dikenal telah mengabdi sebagai pendidik di wilayah Jakarta Timur dan baru saja berhasil menyelesaikan pendidikan magister beberapa bulan sebelum kejadian nahas ini.

Kunjungan Gubernur Dedi Mulyadi memberikan sedikit penghiburan di tengah duka yang begitu mendalam bagi keluarga korban.

"Saya akan menjadikan anaknya sebagai anak angkat dan menjamin biaya pendidikan hingga kuliah," ujar Dedi memberikan komitmennya di hadapan keluarga.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memberikan santunan sebesar Rp50 juta kepada keluarga sebagai bentuk bantuan meringankan beban.

Dedi menegaskan pentingnya investigasi menyeluruh terhadap tragedi ini agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.

"Kecelakaan transportasi publik yang menelan korban jiwa tidak boleh terjadi lagi. Semua harus diusut tuntas," tegasnya.

Kini, sang anak yang masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar harus menjalani masa depan tanpa kehadiran dan pelukan hangat dari sosok ibunda tercinta.

Di balik angka korban tewas, tersimpan kisah pilu tentang seorang ibu, seorang guru berdedikasi, dan sebuah pesan sederhana yang kini menjadi kenangan abadi dalam ingatan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung