Berita, Timur Tengah

Pezeshkian Ultimatum AS: Serang Lagi Saat Negosiasi, Perang Dimulai

Repelita.id

01 May 2026 13:26 WIB

Pezeshkian Ultimatum AS: Serang Lagi Saat Negosiasi, Perang Dimulai
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil sikap tegas terhadap Amerika Serikat di tengah debu perang yang belum sepenuhnya reda dengan mengeluarkan ultimatum sangat keras.

Pezeshkian menyebut Amerika Serikat telah melakukan dua kesalahan fatal dengan menyerang Iran di saat kedua belah pihak tengah menjalani proses negosiasi.

ADVERTISEMENT

"Selama negosiasi, Amerika Serikat dan rezim Zionis menyerang Iran dua kali, dan ada kemungkinan tindakan tersebut akan terulang," kata Pezeshkian dikutip dari Anadolu Ajansi dalam perbincangan telepon dengan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko pada Kamis (30/4/2026).

Dua serangan itu menurut penilaian Teheran telah menghancurkan habis kepercayaan Iran terhadap Washington.

"Ini menyebabkan ketidakpercayaan total Republik Islam terhadap Amerika Serikat," tegas Presiden Pezeshkian dalam pernyataannya yang menggetarkan koridor kekuasaan dunia.

Krisis yang dimulai pada 28 Februari lalu itu kini memasuki fase kebuntuan yang berbahaya, bukan fase gencatan senjata yang damai.

Putaran perundingan lain di Pakistan pekan lalu gagal terwujud karena Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Islamabad sebelum utusan AS tiba.

Sumber-sumber diplomatik menyebut bahwa sejak awal kedua belah pihak tidak pernah benar-benar sepaham dalam menentukan agenda pembicaraan.

AS ingin membahas program nuklir Iran, sementara Teheran ingin membahas pencabutan blokade dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sejak perang pecah, Iran menutup Selat Hormuz untuk kapal-kapal AS dan Israel, padahal sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur perairan ini.

Pezeshkian dalam pernyataan memperingati Hari Teluk Persia Nasional pada 30 April 2026 menegaskan bahwa kawasan tersebut bukanlah arena untuk memaksakan kehendak asing sepihak.

Dia menyebut setiap upaya AS memberlakukan blokade laut bertentangan dengan hukum internasional dan pasti akan gagal.

Sementara itu dari Washington, Presiden Donald Trump mengklaim bahwa Iran sedang dalam keadaan runtuh dan kesulitan menentukan siapa pemimpin mereka.

Faktanya, setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dalam serangan awal perang, putranya Sayyid Mojtaba Khamenei kini memegang tampuk kekuasaan tertinggi.

Penasihat militer Iran Jenderal Mohsen Rezaei memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir blokade angkatan laut.

"Jika berlanjut, Iran akan merespons. Jika AS memulai perang lagi, mereka harus mengharapkan bahwa kami akan menawan sejumlah besar dari mereka," kata Rezaei kepada televisi pemerintah Iran.

Pezeshkian menilai dua serangan yang terjadi saat negosiasi berlangsung sebagai pelanggaran standar dan hukum internasional serta contoh nyata kejahatan perang.

Kini Iran menyebut tidak ada lagi ruang bagi negosiasi karena kepercayaan telah luluh lantak.

Pezeshkian menyatakan Iran bahkan tidak membutuhkan pembicaraan lagi karena yang ada hanyalah ancaman jelas bahwa jika Amerika melakukan sesuatu sekarang, perang akan dimulai.

Trump di sisi lain mengklaim bahwa AS sudah menang dalam perang melawan Iran meskipun ia terus mempertahankan blokade Selat Hormuz.

Presiden AS tersebut dilaporkan telah menerima pengarahan dari Komandan CENTCOM tentang opsi militer baru yang mencakup serangan cepat ke infrastruktur strategis Iran.

Pihak terkait juga menyiapkan opsi operasi maritim di Selat Hormuz untuk menguasai sebagian jalur distribusi minyak dunia.

Pengerahan pasukan khusus direncanakan untuk mengamankan stok uranium yang telah diperkaya sebagai respons atas meningkatnya ketegangan geopolitik.

Pezeshkian menegaskan bahwa Iran sebagai penjaga keamanan di Teluk dan Selat Hormuz terus berpegang pada prinsip kebebasan navigasi.

"Tanggung jawab atas setiap ketidakamanan di jalur air ini terletak pada Amerika Serikat dan Israel," tegas Pezeshkian dikutip Xinhua.

Ultimatum telah disampaikan Teheran yang tidak akan membiarkan serangan ketiga kali terjadi di tengah negosiasi.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung