Repelita [Jakarta] - Sorotan publik mencuat menyusul hilangnya potongan penyampaian Presiden Prabowo Subianto terkait isu persenjataan nuklir Iran dari tayangan dokumentasi resmi Istana Negara.
Pengarahan di hadapan jajaran pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia seluruh provinsi pada akhir Juli lalu itu sejatinya menyinggung potensi ancaman perang nuklir global.
ADVERTISEMENT
Bagian pembicaraan yang kemudian memicu kontroversi memuat klaim bahwa Iran telah berhasil memproduksi senjata nuklir serta potensi pemicu respons dari negara-negara kawasan Timur Tengah lainnya.
Sesi pertemuan terbuka tersebut mendadak dihentikan serta dilanjutkan secara tertutup tak lama setelah pernyataan sensitif tersebut diujarkan dari podium utama.
Dokumentasi rekaman ulang yang disiarkan kembali oleh pihak Istana diketahui telah memotong bagian percakapan yang membahas kapasitas nuklir negara tersebut.
Hingga kini belum ada penyampaian keterangan resmi mengenai latar belakang penghilangan substansi pidato dari tayangan dokumentasi pemerintah tersebut.
Langkah penyuntingan berkas audio visual tersebut menimbulkan spekulasi mengenai kejelasan pesan diplomasi serta posisi politik luar negeri Indonesia.
Sensitivitas muncul lantaran Badan Energi Atom Internasional hingga saat ini belum pernah merilis konfirmasi resmi atas kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.
Pernyataan kepala negara tersebut dinilai pengamat kawasan Timur Tengah Faisal Assegaf lebih mencerminkan sudut pandang Amerika Serikat dan Israel ketimbang sikap independen Indonesia.
Konsistensi narasi kepresidenan dipandang amat krusial guna menjaga kredibilitas prinsip politik luar negeri bebas aktif serta komitmen nonproliferasi nuklir di tingkat global. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok