Berita, Internasional

PM Malaysia Kecam Keras Israel Bajak Kapal Bantuan Gaza, 22 Kapal dan 200 Aktivis Ditahan

Repelita.id

30 April 2026 22:59 WIB

PM Malaysia Kecam Keras Israel Bajak Kapal Bantuan Gaza, 22 Kapal dan 200 Aktivis Ditahan
Foto: Istimewa

Repelita Kuala Lumpur - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dengan tegas mengecam tindakan Israel yang kembali menahan kapal pembawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza, Global Sumud Flotilla (GSF), di perairan internasional pada Kamis, 30 April 2026.

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan di Kuala Lumpur, Anwar menyebut aksi tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum maritim internasional.

ADVERTISEMENT

"Saya mengutuk tindakan kekerasan rezim Zionis Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional, yang merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum maritim dan menyerupai tindakan perompakan yang mencemari prinsip kemanusiaan universal," kata Anwar Ibrahim dengan nada tegas.

Menurut informasi yang disampaikan Perdana Menteri Malaysia melalui saluran Telegram pribadinya, sedikitnya 22 kapal GSF yang berlayar dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 dibajak oleh aparat Israel saat melintas di perairan internasional di dekat Pulau Crete, Yunani .

Dari 22 kapal yang dibajak tersebut, enam di antaranya membawa serta 10 warga negara Malaysia yang ikut serta dalam misi kemanusiaan ini .

Kesepuluh warga Malaysia yang menjadi korban pembajakan adalah Zainal Rashid Ahmad (Kapal Arkham III), Osman Zolkifli dan Dr Jihan Alya Mohd Nordin (Eros 1), Hazwan Hazim Dermawan, Mohd Hanafi Mohd Salim, Ahmad Musa Al-Nuwayri Kamaruzaman dan Norhelmi Ab Ghani (Bianca BCN), Mohd Redzal Amzah (Freia), Muhamad Muhsin Zaidi (Marea), serta Mohd Shamsir Mohd Isa (Esplai II) .

PM Anwar mendesak agar semua pihak segera mengambil tindakan cepat untuk memastikan keselamatan seluruh aktivis yang ditahan.

Ia juga meminta jaminan bahwa tidak ada tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap para aktivis, termasuk 10 warga Malaysia yang saat ini ikut ditahan dan terputus komunikasi.

"Keselamatan mereka harus dijamin tanpa kompromi," tegas Anwar Ibrahim dalam pernyataannya.

Pemerintah Malaysia, lanjut Anwar, saat ini sedang berkomunikasi dan bekerja sama secara erat dengan negara-negara sahabat untuk memastikan para aktivis segera dibebaskan.

Dalam situasi yang sangat genting ini, Anwar menekankan bahwa nilai belas kasih dan kemanusiaan harus mengatasi segala perbedaan politik.

Malaysia akan terus berdiri teguh mempertahankan prinsip kemanusiaan universal di tengah tekanan apa pun .

Sementara itu, berdasarkan laporan dari Global Sumud Flotilla, aksi pembajakan ini terjadi pada Rabu malam, 29 April 2026, sekitar pukul 01.00 hingga 11.00 waktu setempat .

Kapal-kapal misi kemanusiaan tersebut dicegat oleh pasukan Israel Defence Forces (IDF) di perairan internasional sekitar 656 mil laut atau lebih dari 1.000 kilometer dari bibir pantai Gaza .

Wilayah tersebut merupakan zona pelayaran internasional yang sah berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) .

Dalam insiden yang berlangsung selama beberapa jam tersebut, pasukan Israel dilaporkan melepaskan tembakan peringatan dan menggunakan gangguan frekuensi radio terhadap para aktivis .

Menteri Komunikasi Malaysia, Fahmi Fadzil, mengonfirmasi bahwa satu dari 22 kapal yang dibajak, yaitu kapal bernama TamTam, berhasil dihubungi kembali pada pukul 19.00 malam waktu setempat .

Kapal tersebut sebelumnya terputus hubungan selama lebih dari 10 jam setelah alat komunikasi dan mesin kapal diduga disabotase oleh aparat Israel .

Sementara itu, 21 kapal lainnya masih belum dapat dihubungi hingga berita ini diturunkan .

Misi Global Sumud Flotilla 2.0 sendiri merupakan konvoi kapal internasional yang membawa bantuan kemanusiaan dari berbagai negara, dengan total sekitar 100 kapal dan hampir 1.000 aktivis yang bertujuan memecah blokade Israel terhadap Jalur Gaza .

Israel sendiri tidak membantah tindakan penahanan terhadap para aktivis tersebut.

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa pasukan mereka telah membawa sekitar 175 aktivis dari sekitar 20 kapal yang berpartisipasi dalam armada tersebut ke wilayah Israel .

Tindakan Israel ini terjadi hanya beberapa jam setelah media Ibrani melaporkan bahwa Israel sedang mempersiapkan diri untuk mencegat armada kapal bantuan kemanusiaan tersebut .

Sebelumnya, Selat Hormuz menjadi jalur utama konflik AS-Iran. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung