Repelita [Jakarta] - Presiden Prabowo Subianto mengaku heran terhadap kritik yang diarahkan kepadanya terkait frekuensi kunjungan kerja ke luar negeri selama memimpin Indonesia.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan pidato dalam pembukaan Musyawarah Nasional XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung.
ADVERTISEMENT
Menurut Prabowo, kritik serupa juga pernah diterima Presiden ke-7 RI Joko Widodo, meski kala itu Jokowi justru dinilai terlalu jarang melakukan lawatan ke luar negeri.
"Jadi, ada Presiden kayak Pak Jokowi yang jarang keluar negeri, disalahkan, ya kan ‘Jokowi gak pernah ke luar negeri. Jokowi tidak peduli politik luar negeri’. Saya sering ke luar negeri, ‘Prabowo sering ke luar negeri’," ujar Prabowo.
Ia menilai kritik tersebut menunjukkan bahwa apa pun kebijakan yang diambil seorang pemimpin akan tetap memunculkan penilaian berbeda dari masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Prabowo menjelaskan bahwa kondisi dunia saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Perubahan geopolitik yang berlangsung cepat membuat Indonesia harus aktif membangun komunikasi dengan banyak negara demi menjaga kepentingan nasional.
"Aneh… Sebenernya tidak ada masalah gitu, bener gak? Situasi mungkin berubah, sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa, lawan siapa," katanya.
Prabowo menegaskan Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi hubungan internasional bangsa.
Ia memastikan pemerintah tidak akan bergabung dengan blok kekuatan tertentu maupun terlibat dalam pakta militer yang dapat mengganggu posisi Indonesia sebagai negara yang independen.
"Bahwa politik luar negeri Indonesia adalah politik non aligned, politik non-blok kita bersahabat sama semua negara, kita bersahabat sama semua kekuatan, kita tidak mau terlibat dengan pakta-pakta militer siapapun," ucapnya.
Prabowo mengatakan arah kebijakan tersebut langsung ia tetapkan setelah menerima mandat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Baginya, menjaga hubungan baik dengan seluruh negara merupakan langkah penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.
"Karena itu, begitu saya menerima mandat sebagai presiden, saya langsung, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non aligned, politik non-blok, politik bebas aktif, seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh," lanjutnya.
Prabowo juga menegaskan dirinya menjalin hubungan baik dengan berbagai pemimpin dunia tanpa membedakan latar belakang maupun kekuatan politik negara masing-masing.
Ia menyatakan fokus utamanya adalah bekerja untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia, terlepas dari berbagai kritik yang muncul.
"Sekarang saya baik sama Presiden Putin, baik saya, tapi saya baik juga sama Presiden Trump. Di sini saya disalahkan di situ saya disalahkan, tapi gak ada masalah. Saudara-saudara noise selalu ada yang penting kita yakin garis kita di mana. Selama saya yakin saya kerja untuk bangsa dan rakyat Indonesia, selamanya saya tidak ragu-ragu," tuturnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok