Berita, Nasional

Prabowo Rancang RAPBN 2027: Target Pertumbuhan Ekonomi Naik dan Defisit Anggaran Dipangkas Hingga Dua Persen

Repelita.id

20 May 2026 15:58 WIB

Prabowo Rancang RAPBN 2027: Target Pertumbuhan Ekonomi Naik dan Defisit Anggaran Dipangkas Hingga Dua Persen
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Cetak biru perdana mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk masa bakti Tahun Anggaran 2027 telah secara resmi dipublikasikan oleh Presiden Prabowo Subianto ke hadapan publik.

Ketika menyampaikan orasi kenegaraan pada agenda Sidang Paripurna DPR RI, sang Kepala Negara mengintroduksi desain kebijakan fiskal yang berkarakter jauh lebih tangguh serta mengedepankan prinsip kehati-hatian.

ADVERTISEMENT

Penyehatan struktur instrumen keuangan ini tercermin dari adanya pemangkasan drastis pada proyeksi angka defisit pembiayaan yang ditekan ke rentang angka 1,8 persen hingga batas tertinggi 2,4 persen terhadap Produk Domestik Buto (PDB).

"Dari sisi pembiayaan defisit kita di tahun 2027 defisit APBN akan kami jaga pada kisaran 1,80 hingga maksimal 2,40 persen PDB dan kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini," kata Prabowo, Rabu (20/5/2026).

Guna merealisasikan postur keuangan negara yang kokoh tersebut, jajaran menteri kabinet memformulasikan rancangan pagu belanja negara yang efisien namun tetap memiliki daya ungkit produktif dengan proporsi sebesar 13,62 persen hingga mencapai 14,8 persen dari total PDB.

Sementara pada pos penerimaan fiskal, target pengumpulan pendapatan negara dipatok untuk bergerak optimal pada kisaran angka 11,82 persen sampai batas atas 12,40 persen dari total PDB.

"Ini arah kebijakan ekonomi dan fiskal negara kita, sebagai pembicaraan pendahuluan dalam RAPBN 2027," ujar Prabowo.

Formulasi defisit anggaran yang terangkum dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 ini tergolong sangat disiplin serta menunjukkan sinyal pembatasan yang berani.

Standar baru ini diposisikan jauh lebih ketat apabila disandingkan dengan plafon defisit yang sebelumnya diputuskan dalam Undang-Undang APBN periode 2026 yang kala itu menyentuh nominal Rp689,1 triliun atau berkisar 2,68 persen dari PDB.

Langkah pengetatan ikat pinggang ekonomi ini sekaligus difungsikan selaku instrumen korektif atas kinerja defisit keuangan pada tahun awal berjalannya pemerintahan fiskal 2025 yang kedapatan sempat merembet melebar hingga Rp695,1 triliun atau menembus 2,92 persen PDB.

Bagi pandangan subjektif Presiden Prabowo Subianto, pengerjaan renovasi total pada aspek tata kelola serta restorasi kesehatan struktur kas negara merupakan sebuah prasyarat mutlak demi mengamankan kedaulatan serta kemandirian ekonomi nasional dalam jangka panjang.

"APBN bukan sekadar dokumen keuangan negara, tapi wujud alat perjuangan kita sebagai bangsa," tegas Prabowo.

Selain menguraikan peta pembiayaan makro, berkas dokumen KEM-PPKF 2027 yang diserahkan oleh Presiden ke meja parlemen turut mengonstruksikan indikator-indikator krusial dalam asumsi dasar ekonomi makro sebagai fondasi pacu laju pembangunan nasional.

Jajaran otoritas moneter dan fiskal menetapkan sasaran pertumbuhan ekonomi yang bernada cukup optimistis pada batas level 5,8 persen hingga mencapai 6,5 persen dengan jaminan stabilitas harga barang pokok yang dikawal ketat.

Adapun rincian indikator asumsi makro RAPBN 2027 berdasarkan pemaparan resmi pemerintah meliputi target pertumbuhan ekonomi di rentang 5,8 persen sampai 6,5 persen, disusul laju inflasi yang dikendalikan pada level 1,5 persen hingga 3,5 persen.

Untuk pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat diproyeksikan berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500, dengan tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun pada kisaran 6,5 persen hingga 7,3 persen.

Pada sektor komoditas energi, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok pada angka 70 dolar AS sampai 95 dolar AS per barel, dibarengi target lifting minyak bumi sebesar 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari.

Sedangkan target untuk kapasitas lifting gas bumi dicanangkan menyentuh level 934 ribu hingga 977 ribu barel setara minyak per hari, guna menopang postur pendapatan negara di level 11,82 persen hingga 12,40 persen PDB.

Rangkaian proyeksi makro tersebut diposisikan guna melengkapi struktur pagu belanja negara yang bergerak di angka 13,62 persen sampai 14,80 persen PDB, demi menjaga defisit akhir pada batas aman 1,80 persen hingga 2,40 persen PDB.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung