Repelita [Jakarta] - Kecenderungan Presiden Prabowo Subianto yang terus-menerus membawa narasi luar negeri dalam setiap pidatonya menuai sorotan tajam dari peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma.
Menurut Made, ketergantungan Presiden terhadap isu asing dalam menjelaskan problematika domestik menunjukkan pola komunikasi yang obsesif.
ADVERTISEMENT
Apa-apa dia kaitkan dengan luar negeri atau asing, tutur Made dalam catatan analisisnya, Selasa (14/7/2026).
Made membedah tiga pola narasi yang kerap digunakan Presiden, mulai dari klaim Indonesia menjadi korban konspirasi negara lain yang enggan melihat kemajuan bangsa.
Anda tentu tidak asing dengan suara serak menggelegar yang sering dia ucapkan, 'Hai antek-antek asing!' Barusan saja dia pidato bahwa ada negara lain yang tidak senang Indonesia maju.
Indonesia negara kaya, tapi ada negara yang berusaha merampok kekayaan Indonesia habis-habisan, paparnya.
Pola selanjutnya adalah upaya mencari pengakuan internasional yang disampaikannya secara samar tanpa pernah menyebutkan negara mana yang memberikan apresiasi tersebut.
Ini adalah upaya mendapat pengakuan.
Ini mirip seperti bujang-bujang yang mencari afirmasi, sindir Made.
Selain itu, Presiden juga melontarkan klaim terkait peningkatan kesejahteraan petani hingga bisa berwisata ke luar negeri, yang menurut Made tidak selaras dengan fakta kehidupan petani subsisten di lapangan.
Saya tidak tahu siapa yang membisiki Prabowo untuk soal petani ini.
Sebab sebagian besar petani Indonesia adalah mereka yang hidup subsisten, artinya cukup untuk makan, tambahnya.
Made menilai bahwa watak pemimpin yang haus akan afirmasi justru berbahaya karena cenderung menutup diri dari masukan teknokratis dan hanya ingin dikelilingi oleh penjilat.
Kondisi ini, kata Made, dapat dibaca oleh politisi luar negeri sebagai kelemahan dalam berdiplomasi.
Kalau mereka membutuhkan sesuatu dari Indonesia, mereka cukup memberikan afirmasi kepada pemimpinnya, pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok