Berita, Nasional

Presiden Prabowo Panggil Tokoh Ekonomi Era SBY Bahas Strategi Mitigasi Krisis Global Di Istana Otoritas Keuangan Siaga?

Repelita.id

22 May 2026 22:10 WIB

Presiden Prabowo Panggil Tokoh Ekonomi Era SBY Bahas Strategi Mitigasi Krisis Global Di Istana Otoritas Keuangan Siaga?
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kepala Negara memanggil sejumlah figur senior yang pernah mengomandani sektor finansial dan perencanaan nasional pada masa pemerintahan terdahulu ke kompleks Istana Kepresidenan guna mendiskusikan strategi mitigasi risiko di tengah ketidakpastian pasar global pada Jumat, 22 Mei 2026.

Pertemuan strategis tersebut dihadiri oleh mantan nakhoda bank sentral Burhanuddin Abdullah bersama jajaran mantan petinggi otoritas perencanaan pembangunan nasional di antaranya Paskah Suzetta serta Lukita Dinarsyah Tuwo yang aktif pada medio dua dekade lalu.

ADVERTISEMENT

Kehadiran para tokoh senior tersebut dimanfaatkan untuk membedah rekam jejak historis penanganan turbulensi pasar keuangan global guna memperkuat ketahanan instrumen moneter domestik dalam menghadapi tekanan geopolitik terkini.

“Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014,” kata Airlangga seusai pertemuan di Istana Kepresidenan pada Jumat sore.

Para begawan ekonomi tersebut juga memberikan catatan tebal mengenai metode mitigasi saat menghadapi guncangan harga komoditas energi dunia serta lonjakan indeks harga konsumen yang sempat menekan volatilitas mata uang dalam negeri.

“Mereka mengatakan kalau di masa lalu, inflasi kita di periode sekitar 17 persen dan juga terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak. Di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai US$ 140 (per barel),” ujarnya.

Meski demikian, otoritas koordinator bidang perekonomian menilai bahwa ketahanan struktur keuangan negara pada saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih tangguh jika dikomparasikan dengan beberapa siklus perlambatan ekonomi pada masa lampau.

“Fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” tutur Airlangga.

Melalui diskusi panjang tersebut, jajaran menteri kabinet dapat memetakan formula taktis yang adaptif sebagai panduan navigasi kebijakan fiskal guna menangkal dampak rambatan dari pelemahan ekonomi eksternal.

Presiden pun menginstruksikan jajaran menteri termasuk otoritas bendahara negara Purbaya Yudhi Sadewa untuk terus mengawal kebijakan pengawasan perbankan yang ketat demi menjaga likuiditas serta stabilitas makroekonomi tetap berada pada koridor aman.

Di sisi lain, mantan Gubernur Bank Indonesia mengonfirmasi bahwa dialog interaktif ini sengaja digelar untuk memetik pelajaran berharga dari manajemen krisis masa lalu tanpa memfokuskan pembicaraan pada fluktuasi jangka pendek nilai tukar mata uang domestik.

"Di pemerintah. Jadi fiskalnya bagaimana, moneter bagaimana, secara teamwork-nya harus seperti apa untuk menyelesaikan masalah ini," kata Burhanuddin.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung